STUDI MERAPI VI

DAMPAK DI UDARA LETUSAN GUNUNG MERAPI

Budi Setiyarso

11 Nopember 2010

Awan akibat letusan Merapi

Awan letusan Merapi

Letusan Gunung Merapi membentuk awan yang menutupi sebagian besar Pulau Jawa. Awan yang terbentuk dari gas-gas yang dikeluarkan Gunung Merapi ini mengakibatkan gangguan di atmosfer khususnya di lapisan paling bawah yaitu troposfer. Seperti kita ketahui bahwa letusan Merapi 2010 sebanding dengan 600 kali letusan bom atom di Hirosima pada tahun 1945. Dapat dibayangkan seberapa besar gas yang diproduksi akibat letusan tersebut.

Pada tanggal 5 November 2010. Sensor MODIS di satelit Terra NASA menangkap gambar awan di sekitar pulau Jawa yaitu sebagai berikut ini :

Lanjutkan membaca “STUDI MERAPI VI”

STUDI MERAPI V

MERAPI MEMICU GUNUNGAPI YANG LAIN AKTIF?

Budi Setiyarso

10 Nopember 2010

Peta Sebaran Gunungapi dan Risiko

Peta Sebaran Gunungapi dan Risiko

Akhir-akhir ini bencana memang datang beiringan. Mulai dari banjir di Wasior, gempa dan tsunami di Mentawai hingga letusan Merapi yang ikuti 21 gunungapi yang lain berstatus waspada, siaga dan awas. Data PVMBG per 10 Nopember 2010 jam 07:18:30 menyatakan status ke-22 gunungapi tersebut adalah sebagai berikut :

G.Merapi (awas), G. Karangetang (Siaga), G. Ibu (Siaga), G. Sinabung (Waspada), G. Talang (Waspada), G. Kaba (Waspada), G. Kerinci (Waspada), G. Krakatau (Waspada), G. Papandayan (Waspada), G. Slamet (Waspada), G. Semeru (Waspada), G. Soputan (Waspada), G. Rinjani (Waspada), G. Bromo (Waspada), G. Batur (Waspada), G. Sangeangapi (Waspada), G. Rokatenda (Waspada), G. Egon (Waspada),G. Lokon (Waspada), G. Gamalama (Waspada), G. Dukono (Waspada) dan G. Seulewah Agam (Waspada)

Lanjutkan membaca “STUDI MERAPI V”

STUDI MERAPI IV

BAHAYA LAHAR DINGIN MERAPI 2010

Oleh : Budi Setiyarso

9 Nopember 2010

 

Bahaya Merapi 

Bahaya Merapi

Bahaya gunungapi dibedakan menjadi bahaya primer (bahaya langsung) dan bahaya sekunder (bahaya tidak langsung). Bahaya primer merupakan bahaya dampak hasil erupsi yang meliputi aliran lava, aliran piroklastik, bahan jatuhan dan gas. Bahaya sekunder merupakan bahaya dampak lanjutan erupsi seperti lahar, gerakan massa, tsunami dan hujan asam (Yasin Yusuf).

Sebelum mengulas lebih jauh alangkah baiknya kita cermati beberapa istilah kegunungapian berikut ini :

Aliran lava (lava flow) adalah magma yang keluar dari permukaan dan mengalir di permukaan yang berupa material magma (cairan silikat) murni bersuhu tinggi (bisa mencapai > 1300 derajat C)

Lanjutkan membaca “STUDI MERAPI IV”

STUDI MERAPI III

ALIRAN PIROKLASTIK MERAPI 1 NOPEMBER 2010

Budi Setiyarso

7 Nopember 2010

 

Citra NASA

Citra NASA

Tulisan ini mencoba mengulas dimensi ruang Citra ASTER thermal NASA tertanggal 1 November 2010. Saya mendapatkan citra tentang aliran piroklastik Merapi tersebut dari dongeng geologi. Aliran piroklastik menurutnya adalah avalanche gas sangat panas, abu, dan batuan yang mengalir menyusuri salah satu sisi gunung berapi dengan kecepatan tinggi. Aliran itu menggambarkan arus awan panas.

Dengan Arc View 3.3 dan Google Earth saya ingin mengulas lebih jauh informasi spasial dari citra tersebut. Arc view mampu menampalkan image seperti di bawah ini :

Lanjutkan membaca “STUDI MERAPI III”

STUDI MERAPI II

LETUSAN ST VINCENT MERAPI 2010

Oleh : Budi Setiyarso

6 Nopember 2010

Tipe Guguran 

Tipe Guguran

Menurut teori tipe letusan, Merapi memang memiliki tipe sendiri yaitu tipe merapi (guguran) yaitu awan panas dan lava mengalir pada salah satu bagian lereng seperti jatuh karena gaya beratnya. Gaya berat awan panas dan lava lebih kuat mempengaruhi aliran daripada tekanan dari dalam bumi. Tetapi kenapa letusan 4 Nopember 2010 membentuk tipe St Vincent? (Kok Merapi menghianati karakternya? Melu-melu gunungapi luar negeri St Vincent?? Atau mungkin Merapi sudah kehilangan karakter kuat dan cerdasnya sehingga terpengaruh budaya gunungapi asing yang katanya nakal dan bringas???)

Lanjutkan membaca “STUDI MERAPI II”

STUDI MERAPI I

REFLEKSI KEMATIAN MBAH MARIDJAN

Oleh : Budi Setiyarso

4 Nopember 2010

Mbah Maridjan 

Mbah Maridjan

Setting morfologi puncak gunungapi aktif kuat dipengaruhi oleh sistem aliran lava. Morfologi ini mempengaruhi sistem aliran lava. Begitu juga sistem aliran lava akan mempengaruhi setting morfologi pasca vulkanisme. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa keadaan morfologi puncak dan jalur lava bersifat dinamis dan berubah dari waktu ke waktu, tergantung kuatnya gerusan lava dan besaran sedimentasi lava yang telah membeku.

Dugaan aliran lava akan membentuk pola yang tetap (tidak banyak berubah) sebagai buah perkembangan pengetahuan lokal (local knowledge) yang mendasarkan pada “ilmu titen” dari peristiwa-peristiwa di masa lampau (event) adakalanya bisa menjadi “salah”. Seperti itulah kasus tragedi “Mbah Maridjan” di Dusun Kinahrejo pada tanggal 26 Oktober 2010.

Lanjutkan membaca “STUDI MERAPI I”