STUDI MERAPI III

ALIRAN PIROKLASTIK MERAPI 1 NOPEMBER 2010

Budi Setiyarso

7 Nopember 2010

 

Citra NASA

Citra NASA

Tulisan ini mencoba mengulas dimensi ruang Citra ASTER thermal NASA tertanggal 1 November 2010. Saya mendapatkan citra tentang aliran piroklastik Merapi tersebut dari dongeng geologi. Aliran piroklastik menurutnya adalah avalanche gas sangat panas, abu, dan batuan yang mengalir menyusuri salah satu sisi gunung berapi dengan kecepatan tinggi. Aliran itu menggambarkan arus awan panas.

Dengan Arc View 3.3 dan Google Earth saya ingin mengulas lebih jauh informasi spasial dari citra tersebut. Arc view mampu menampalkan image seperti di bawah ini :

Lanjutkan membaca “STUDI MERAPI III”

STUDI MERAPI II

LETUSAN ST VINCENT MERAPI 2010

Oleh : Budi Setiyarso

6 Nopember 2010

Tipe Guguran 

Tipe Guguran

Menurut teori tipe letusan, Merapi memang memiliki tipe sendiri yaitu tipe merapi (guguran) yaitu awan panas dan lava mengalir pada salah satu bagian lereng seperti jatuh karena gaya beratnya. Gaya berat awan panas dan lava lebih kuat mempengaruhi aliran daripada tekanan dari dalam bumi. Tetapi kenapa letusan 4 Nopember 2010 membentuk tipe St Vincent? (Kok Merapi menghianati karakternya? Melu-melu gunungapi luar negeri St Vincent?? Atau mungkin Merapi sudah kehilangan karakter kuat dan cerdasnya sehingga terpengaruh budaya gunungapi asing yang katanya nakal dan bringas???)

Lanjutkan membaca “STUDI MERAPI II”

STUDI MERAPI I

REFLEKSI KEMATIAN MBAH MARIDJAN

Oleh : Budi Setiyarso

4 Nopember 2010

Mbah Maridjan 

Mbah Maridjan

Setting morfologi puncak gunungapi aktif kuat dipengaruhi oleh sistem aliran lava. Morfologi ini mempengaruhi sistem aliran lava. Begitu juga sistem aliran lava akan mempengaruhi setting morfologi pasca vulkanisme. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa keadaan morfologi puncak dan jalur lava bersifat dinamis dan berubah dari waktu ke waktu, tergantung kuatnya gerusan lava dan besaran sedimentasi lava yang telah membeku.

Dugaan aliran lava akan membentuk pola yang tetap (tidak banyak berubah) sebagai buah perkembangan pengetahuan lokal (local knowledge) yang mendasarkan pada “ilmu titen” dari peristiwa-peristiwa di masa lampau (event) adakalanya bisa menjadi “salah”. Seperti itulah kasus tragedi “Mbah Maridjan” di Dusun Kinahrejo pada tanggal 26 Oktober 2010.

Lanjutkan membaca “STUDI MERAPI I”

Bongkahan Es Raksasa Hanyut di Laut Arktik

Hadi Suprapto, Harriska Farida Adiati Sebuah bongkahan es berukuran hampir setengahnya Jakarta mengapung di Laut Arktik di Kutub Utara setelah memisahkan diri dari sebuah gletser di Greenland. Dua fasilitas yang kemungkinan berada di jalur yang akan dilewati bongkahan es raksasa ini adalah kilang minyak dan jalur pelayaran. Kerusakan yang bisa ditimbulkan belum bisa diperkirakan. Dalam skenario terburuk, bongkahan es ini akan mencapai kawasan perairan padat … Lanjutkan membaca Bongkahan Es Raksasa Hanyut di Laut Arktik

Jenis-jenis Peta

Secara umum peta dibagi atas beberapa klasifikasi, sebagai berikut :

1. Berdasarkan Sumber Datanya

a. Peta Induk (Basic Map)

Peta induk yaitu peta yang dihasilkan dari survei langsung di lapangan. Peta induk ini dapat digunakan sebagai dasar untuk pembuatan peta topografi, sehingga dapat dikatakan pula sebagai peta dasar (basic map). Peta dasar inilah yang dijadikan sebagai acuan dalam pembuatan peta-peta lainnya.

b. Peta Turunan (Derived Map)

Peta turunan yaitu peta yang dibuat berdasarkan pada acuan peta yang sudah ada, sehingga tidak memerlukan survei langsung ke lapangan. Peta turunan ini tidak bisa digunakan sebagai peta dasar.

Lanjutkan membaca “Jenis-jenis Peta”

PERGERAKAN GUNUNG

Dalam sebuah ayat, kita diberitahu bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak.

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Qur’an, 27:88)

Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Lanjutkan membaca “PERGERAKAN GUNUNG”