Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengukur indikator kesejahteraan sosial, antara lain indeks kualitas hidup secara fisik, indeks kemajuan sosial, dan yang paling mutakhir adalah indeks pembangunan manusia. Pengukuran kesejahteraan harus menggabungkan antara aspek objektif dan aspek subjektif.
Badan Pusat Statistik (BPS) setiap tahun menerbitkan laporan tentang indikator kesejahteraan rakyat yang mencakup delapan bidang, yaitu kependudukan, pendidikan, kesehatan dan gizi, ketenagakerjaan, taraf serta pola konsumsi, perumahan dan lingkungan, kemiskinan, dan penyelenggaraan sosial lainnya. Kedelapan bidang ini menjadi acuan dalam upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat (BPS, 2021).
Selain indikator dari BPS, beberapa pihak juga melakukan modifikasi terhadap indikator tersebut. Salah satunya dengan menggunakan indeks kebahagiaan masyarakat. Hal ini didasari kenyataan bahwa tingkat kebahagiaan dan kesejahteraan masyarakat berbeda-beda antardaerah. Sebagai contoh, masyarakat Batak meyakini perlunya tercapai tiga hal yang disebut 3H, yaitu hamoraon (kekayaan berlimpah), hasangapon (kehormatan), dan hagabeon (kesuburan serta banyak keturunan). Sementara itu, masyarakat Jawa mengenal konsep gemah ripah loh jinawi, yang berarti kehidupan yang tenteram, makmur, dan tanah yang sangat subur.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai Tolok Ukur Kesejahteraan
Delapan bidang menurut standar BPS dapat dikelompokkan menjadi tiga indikator utama melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM merupakan indikator untuk mengukur keberhasilan pembangunan sekaligus menjadi tolok ukur kesejahteraan suatu wilayah. Ketiga indikator IPM tersebut adalah:
- Angka harapan hidup saat lahir (life expectancy at birth)
- Angka harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah (mean years of schooling)
- Kemampuan daya beli (purchasing power parity)
Angka harapan hidup mengukur dimensi umur panjang dan hidup sehat. Angka harapan lama sekolah serta rata-rata lama sekolah mengukur dimensi pengetahuan atau pendidikan. Sementara itu, kemampuan daya beli mengukur standar hidup yang layak.
Penjelasan Tiga Dimensi IPM
Dimensi Umur Panjang dan Hidup Sehat
Angka harapan hidup saat lahir adalah rata-rata perkiraan waktu (dalam satuan tahun) yang dapat dijalani oleh seseorang selama hidupnya. Angka ini penting karena mencerminkan keyakinan masyarakat akan nilai dari umur yang panjang. Secara tidak langsung, angka harapan hidup juga berkaitan dengan berbagai faktor lain, seperti kecukupan gizi dan kondisi kesehatan yang baik.
Dimensi Pengetahuan
Dimensi pengetahuan mencerminkan kemampuan masyarakat dalam mengakses pendidikan, terutama pendidikan yang berkualitas baik dan produktif. Penggunaan angka harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah dapat memberikan gambaran yang lebih relevan mengenai dimensi pendidikan beserta perubahannya dari waktu ke waktu.
Dimensi Standar Hidup Layak
Dimensi kemampuan daya beli yang mewakili standar hidup layak pada awalnya menggunakan data Pendapatan Nasional Bruto (PNB) per kapita. Namun, karena data tersebut tidak tersedia hingga tingkat daerah, maka digunakan alternatif lain, yaitu indikator pengeluaran riil per kapita yang telah disesuaikan. Indikator ini dapat menggambarkan pendapatan masyarakat serta tingkat kesejahteraan yang dinikmati oleh penduduk sebagai hasil dari membaiknya kondisi perekonomian. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi IPM suatu daerah atau negara, maka semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan rakyat di daerah tersebut.
Kondisi Kesejahteraan di Indonesia
Berdasarkan peta sebaran IPM, rata-rata provinsi di Indonesia memiliki tingkat IPM yang tergolong tinggi dan sedang. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (2021), seluruh provinsi mengalami peningkatan IPM. Sejak tahun 2018, tidak ada lagi provinsi dengan status pembangunan manusia kategori rendah, setelah status pembangunan manusia di Provinsi Papua meningkat dari kategori rendah menjadi sedang. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia mengalami peningkatan kesejahteraan yang cukup signifikan.
Secara umum, capaian kesejahteraan masyarakat Indonesia menunjukkan arah yang positif pada sejumlah indikator kesejahteraan sosial, meskipun masih terjadi lonjakan kepadatan penduduk dan tingkat pengangguran. Berdasarkan laporan statistik Indonesia tahun 2022, terjadi peningkatan angka harapan hidup penduduk. Angka harapan hidup mencapai 73,5 tahun, atau naik 0,1 tahun dibandingkan tahun sebelumnya.


