Indeks Kebahagiaan sebagai Hasil Pembangunan Wilayah


Kita sering mendengar gagasan bahwa pembangunan pada hakikatnya bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk membuat masyarakat bahagia. Contohnya, pembangunan jalan. Tujuannya bukan sekadar menciptakan aspal yang halus dan mulus, tetapi agar perjalanan masyarakat menjadi lebih lancar, aman, dan tepat waktu sehingga aktivitas sehari-hari mereka terbantu dan pada akhirnya menimbulkan rasa bahagia. Demikian pula dengan pembangunan taman. Bukan semata-mata untuk menghasilkan pemandangan yang indah atau rumput yang tidak boleh diinjak, tetapi agar masyarakat dapat menikmati taman tersebut bersama keluarga. Kehadiran taman diharapkan mampu mendatangkan kebahagiaan bagi warganya.

Membangun paradigma bahwa pembangunan harus berorientasi pada kebahagiaan masyarakat bukanlah perkara mudah. Proses ini dimulai dengan mengubah cara pandang: pembangunan adalah upaya sadar yang dilakukan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan hidup. Dalam konteks ini, kesejahteraan memiliki makna yang luas, mencakup baik kesejahteraan ekonomi maupun kesejahteraan psikologis (jiwa).

Pada awalnya, pengembangan wilayah lebih menekankan pada kesejahteraan yang bersifat ekonomi atau berbasis uang (monetary based). Oleh karena itu, tingkat kesejahteraan masyarakat diukur menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB) dan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Namun, pendekatan ini ternyata belum cukup untuk merepresentasikan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

Keterbatasan indikator ekonomi ini mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menyusun alat ukur kesejahteraan yang lebih subjektif guna melengkapi indikator-indikator sebelumnya. Pada tahun 2011, melalui sidangnya, PBB merumuskan pengukuran kesejahteraan masyarakat menggunakan indeks kebahagiaan.

Pengertian Indeks Kebahagiaan

Kebahagiaan secara etimologis dapat diartikan sebagai kondisi hidup yang baik dan bermakna. Dalam arti pembangunan wilayah, kebahagiaan merupakan cerminan dari standar kesejahteraan dan perkembangan sosial masyarakat.

Ada tiga faktor utama yang memengaruhi kebahagiaan seseorang:

  1. Kepuasan hidup, yaitu tingkat kepuasan individu terhadap yang ingin diperoleh dalam hidup, seperti pendidikan dan keterampilan, pekerjaan/usaha/kegiatan utama, pendapatan rumah tangga, kesehatan, serta kondisi rumah dan fasilitas rumah.
  2. Perasaan, yaitu perasaan senang, tidak khawatir/cemas, dan tidak tertekan.
  3. Makna hidup (eudaimonia), yaitu kemandirian, penguasaan lingkungan, pengembangan diri, hubungan positif dengan orang lain, tujuan hidup, dan penerimaan diri.

Ketiga faktor inilah yang kemudian dijadikan sebagai indikator dalam penentuan indeks kebahagiaan suatu wilayah. Dengan demikian, jika kalian ingin melihat kebahagiaan masyarakat di lingkungan kalian, ketiga indikator tersebut dapat digunakan sebagai acuannya.