Pendekatan Pembangunan: Pembangunan Berpusat pada Manusia



Pembangunan adalah proses yang rumit dan dinamis. Dalam skala nasional, pembangunan menyangkut banyak aspek yang saling terkait: ekonomi, sosial, politik, pertahanan, dan keamanan. Agar berhasil, pembangunan harus mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi, kondisi sosial yang kondusif, stabilitas politik, serta keamanan yang terjamin.

Dalam skala kecil (misalnya di lingkungan desa atau kelurahan), pembangunan juga harus mempertimbangkan kondisi masyarakat setempat, ketersediaan bahan material, tenaga kerja, dan sebagainya. Karena kerumitannya, kita memerlukan cara pandang atau pendekatan yang tepat.


Apa Itu Pembangunan Berpusat pada Manusia?

Pembangunan berpusat pada manusia (bisa juga disebut people centered development) pada intinya lebih menekankan pada pemberdayaan. Pemberdayaan masyarakat tidak hanya bertujuan mengembangkan potensi ekonomi rakyat, tetapi juga:

  • Rasa percaya diri dan harga diri
  • Harkat dan martabat
  • Pelestarian tatanan nilai budaya yang sudah ada

Pemberdayaan ini dilakukan sebagai konsep sosial budaya yang diwujudkan dalam pembangunan berpusat pada manusia.

Harapannya: Melalui pemberdayaan, manusia mampu menciptakan sumber kehidupan rumah tangganya sendiri dan secara langsung dapat ikut mendorong pembangunan nasional yang bertujuan mencapai kesejahteraan.

Ciri khas pendekatan ini:

  • Inisiatif kreatif manusia dipandang sebagai sumber daya pembangunan yang utama.
  • Kesejahteraan material dan spiritual manusia menjadi tujuan utama proses pembangunan.
  • Fokus pada peningkatan kemandirian, keadilan sosial, dan pengambilan keputusan partisipatif oleh masyarakat lokal.
  • Tiga fokus sentral: perkembangan dan kesejahteraan manusia, persamaan, dan keberlanjutan (sustainability).

Peran pemerintah: Dalam pendekatan ini, pemerintah berperan sebagai fasilitator, bukan komandan. Pemerintah bertugas menciptakan lingkungan sosial yang memungkinkan manusia mengembangkan potensinya secara maksimal. Yang terpenting, pembangunan berpusat pada manusia mengutamakan partisipasi manusia dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi program pembangunan yang menyangkut hidup mereka sendiri.


1. Latar Belakang Pembangunan Berpusat pada Manusia

Pemahaman tentang pembangunan yang berpusat pada manusia muncul karena adanya pemahaman tentang ekologi manusia yang menjadi pusat perhatian pembangunan. Dalam ekologi manusia, peran dan perilaku manusia (baik sebagai individu maupun sebagai populasi) dalam ekosistem dipelajari secara khusus. Kesimpulannya: seluruh manusia, baik generasi sekarang maupun mendatang, harus menjadi yang utama dalam pembangunan. Pembangunan tidak boleh mengorbankan sebagian besar masyarakat demi kepentingan segelintir orang.

Masalah yang perlu diatasi:

  • Kemiskinan
  • Kelompok rentan
  • Meningkatnya pengangguran

Mengapa masalah ini penting? Karena dapat menyebabkan ketidakstabilan, dengan efek samping seperti:

  • Hubungan sosial yang longgar
  • Melemahnya nilai-nilai dan hubungan antarmanusia

Solusi yang diperlukan:

  • Komitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara adil tanpa mengecualikan masyarakat miskin.
  • Mempromosikan inklusi sosial dan politik berdasarkan hak asasi manusia, larangan diskriminasi, dan perlindungan bagi kelompok yang kurang mampu.

Inilah inti dari paradigma pembangunan yang berpusat pada manusia.


2. Tujuan Pembangunan Berpusat pada Manusia

Pembangunan model ini bertujuan melakukan perubahan dengan fokus utama pada manusia itu sendiri.

Tujuan spesifiknya:

  • Meningkatkan tingkat partisipasi masyarakat, komunikasi, kelompok masyarakat adat, perempuan, anak-anak, dan lain-lain.
  • Memandang remaja dan anak-anak sebagai peserta aktif dalam segala bentuk kegiatan untuk menemukan solusi yang konstruktif.
  • Memberikan manusia kesempatan mengembangkan kepandaian kreatif untuk masa depannya sendiri dan masa depan masyarakat.
  • Mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap birokrasi.
  • Menjamin pertumbuhan kapasitas mandiri masyarakat menuju pembangunan berkelanjutan.
  • Menciptakan masyarakat yang lebih maju.

Tujuan akhir (dalam konteks budaya tradisi saat ini): Meningkatkan kualitas hidup semua orang yang memiliki keinginan dan harapan, baik individu maupun kelompok.

Sasaran objektif strategi ini:

  1. Pengentasan kemiskinan
  2. Terwujudnya keadilan yang merata
  3. Peningkatan partisipasi masyarakat yang signifikan

Prioritas utama: Daerah tertinggal dan kelompok sosial yang berisiko terkena dampak, seperti perempuan, anak-anak, pemuda kurang mampu, orang tua, dan kelompok terpinggirkan lainnya.


3. Dampak Pembangunan Berpusat pada Manusia

Pendekatan ini tidak hanya memandang manusia sebagai bagian dari masyarakat, tetapi juga sebagai fokus utama dan sumber utama pembangunan di segala bidang.

Bidang yang mengalami perubahan:

  • Politik
  • Bahasa
  • Kesenian
  • Hiburan
  • Ekonomi (terutama)

Revolusi mental: Model pembangunan berpusat pada manusia kini telah dibingkai dalam bentuk yang disebut revolusi mental – sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia di zaman yang terus berkembang. Revolusi mental yang diintegrasikan oleh pembangunan berbasis masyarakat mengubah pola hidup dengan cara yang tidak biasa.

Contoh hasil nyata dari model ini: Dimulainya pemberdayaan dengan memberikan:

  • Motivasi
  • Pelatihan keterampilan
  • Dukungan bisnis
  • Nasihat bisnis
  • Pendapatan (terutama bagi perempuan)

Catatan penting: Dampak model pembangunan ini dianggap belum terlalu signifikan, baik pada tingkat kemakmuran maupun ekonomi lokal. Untuk mencapai tujuan model ini, pemerintah sebagai fasilitator perlu menyediakan program-program pendukung untuk memaksimalkan pembangunan. Model ini identik dengan gerakan penguatan kepribadian untuk membangkitkan jiwa kehidupan yang baru, seperti revolusi spiritual Indonesia.


4. Implementasi (Penerapan) Pembangunan Berpusat pada Manusia

Model pembangunan berpusat pada manusia dilakukan melalui pemberdayaan (empowerment).

Salah satu strategi yang dikembangkan: WKSBM (Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat)

Dasar hukum: Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 42/HUK/2004 tentang Pedoman Pelaksanaan Pemberdayaan Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat.

Apa itu WKSBM? WKSBM adalah sistem kerja sama antarmasyarakat dalam bentuk kelompok atau lembaga, seperti:

  • RT (Rukun Tetangga)
  • RW (Rukun Warga)
  • Kelompok usaha ekonomi produktif
  • Kelompok tani
  • Kelompok pengajian
  • Dasawisma
  • Dan lain-lain

Karakteristik WKSBM:

  • Tumbuh secara alamiah dan tradisional, atau dibentuk dan dikembangkan oleh masyarakat lokal.
  • Mampu menumbuhkan interaksi lokal dalam pelaksanaan tugas.
  • Dapat disebut sebagai investasi sosial pembangunan.
  • Bertujuan mensejahterakan anggotanya sekaligus menyelesaikan masalah sosial di masyarakat.

Bagaimana cara kerjanya? Masyarakat menyelesaikan masalah melalui kegiatan terorganisasi untuk memenuhi kebutuhan, baik secara individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat secara keseluruhan, sehingga tercipta kesejahteraan sosial.

Kegiatan WKSBM meliputi:

  • Pertemuan rutin atau pertemuan tertentu melalui jaringan kerja sama.
  • Penghimpunan dana sosial yang ada di masyarakat (dana kematian, arisan, jimpitan beras, dan lain-lain).

Faktor keberhasilan: Komitmen, pengetahuan, dan keterampilan dari pengurus WKSBM.

Pendampingan: Upaya penguatan dan pendampingan kepada pengelola WKSBM dilaksanakan secara berkelanjutan oleh dinas sosial dan kelurahan sebagai pembina fungsional dan teknis.

Contoh implementasi WKSBM: Desa Jetis, Saptosari, Gunungkidul, Yogyakarta

Salah satu kegiatan WKSBM yang diusung Dinas Sosial DIY adalah pengumpulan beras. Kegiatan ini dilakukan hampir setiap bulan dari masing-masing RT setiap ada pertemuan (rapat atau arisan). Beras yang terkumpul kemudian dibagikan pada minggu awal bulan kepada lansia yang berhak menerima dan membutuhkan.

Detail pendistribusian:

  • Jumlah: 2,5 kg beras per penerima
  • Frekuensi: minimal setiap dua bulan sekali
  • Prioritas: 25 orang setiap kali pembagian (dilakukan secara bertahap)

Contoh lain: Program UNDP (United Nations Development Programme) di Laos

Salah satu elemen pekerjaan tata kelola UNDP adalah memastikan bahwa suara dan kebutuhan masyarakat biasa didengar dan diperhatikan, terutama mereka yang termasuk dalam kelompok terpinggirkan atau rentan.

Kasus di Laos: Kementerian Informasi dan Kebudayaan Laos bekerja sama dengan UNDP untuk mendirikan stasiun radio komunitas pertama di negara itu, tepatnya di distrik Khoun. Stasiun radio ini mengudara dalam tiga bahasa yang digunakan oleh kelompok etnis yang berbeda.

Apa yang disiarkan?

  • Pengumuman layanan masyarakat
  • Program tentang masalah sosial (kesehatan, pendidikan, pekerjaan)
  • Topik keselamatan (seperti persenjataan)

Hasil yang dicapai di distrik Khoun:

  • Tingkat vaksinasi yang lebih tinggi
  • Lebih banyak kelahiran dengan bantuan medis
  • Adopsi metode pertanian baru dan lebih baik

Rencana ke depan: Pemerintah Laos sekarang berencana mereplikasi stasiun radio komunitas serupa di masing-masing 47 kabupaten termiskin di Laos dan telah meminta bantuan UNDP. UNDP sendiri telah mendanai dua stasiun baru di tenggara negara itu dengan rencana untuk mendukung empat stasiun lagi.


Kesimpulan

KonsepPenjelasan
People Centered DevelopmentPembangunan yang berpusat pada manusia/masyarakat, dengan pemberdayaan sebagai kuncinya.
Fokus utamaInisiatif kreatif manusia sebagai sumber daya utama pembangunan.
TujuanKemandirian, keadilan sosial, partisipasi masyarakat.
Peran pemerintahFasilitator, bukan komandan.
Sasaran prioritasDaerah tertinggal, perempuan, anak-anak, pemuda, lansia, kelompok terpinggirkan.
Strategi di IndonesiaWKSBM (Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat).
Contoh nyataPengumpulan beras untuk lansia di Gunungkidul; radio komunitas di Laos.
Kunci keberhasilanKomitmen, pengetahuan, keterampilan pengurus, serta pendampingan berkelanjutan.