Pembangunan adalah proses yang rumit dan dinamis. Dalam skala nasional, pembangunan menyangkut banyak aspek yang saling terkait: ekonomi, sosial, politik, pertahanan, dan keamanan. Agar berhasil, pembangunan harus mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi, kondisi sosial yang kondusif, stabilitas politik, serta keamanan yang terjamin.
Dalam skala kecil (misalnya di lingkungan desa atau kelurahan), pembangunan juga harus mempertimbangkan kondisi masyarakat setempat, ketersediaan bahan material, tenaga kerja, dan sebagainya. Karena kerumitannya, kita memerlukan cara pandang atau pendekatan yang tepat.
Apa Itu Pembangunan Berkelanjutan?
Pembangunan berkelanjutan sebenarnya bukan isu baru. Dulu, sebelum istilah ini populer, pertumbuhan ekonomi sering menjadi satu-satunya tujuan pembangunan, tanpa memedulikan dampak sampingannya. Namun, seiring munculnya berbagai masalah akibat sistem pembangunan yang tidak tepat, pembangunan berkelanjutan menjadi topik penting. Intinya, kita tetap bisa membangun tetapi alam sebagai sektor penting dalam proses pembangunan harus tetap dijaga dan dipertahankan.
Sejarah singkat:
- 1987: Komisi Brundtland meluncurkan laporan Our Common Future, yang membahas masalah degradasi lingkungan dan memperkenalkan definisi pembangunan berkelanjutan yang paling banyak digunakan hingga saat ini.
- 1992: Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro, Brazil, dihadiri lebih dari 100 kepala negara dan 178 perwakilan pemerintah. KTT ini merupakan upaya internasional pertama untuk menyusun rencana aksi menuju pola pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Definisi sederhana: Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang berlangsung lama, lintas generasi, serta berupaya menyediakan sumber daya dan lingkungan yang sehat serta cukup untuk menunjang kehidupan.
Konsep ini berkaitan erat dengan kesadaran akan tatanan sosial dalam masyarakat, dengan tetap memperhatikan kepentingan ekonomi. Sebuah konsep pembangunan berkelanjutan harus memiliki tiga nilai:
- Nilai ekonomi
- Nilai moral
- Nilai ekologi
Tanggung jawab moral kita: Sebagai generasi masa kini, kita bertanggung jawab terhadap alam dan generasi yang akan datang. Bentuk tanggung jawab itu adalah memberikan kesempatan yang sama bagi generasi mendatang untuk menikmati pembangunan berkelanjutan.
Prinsip utamanya: Pembangunan yang terjadi pada generasi saat ini jangan sampai mengorbankan generasi yang akan datang dengan tingkat kesejahteraan sosial yang lebih rendah.
Hasil Konferensi Stockholm di Swedia: Menghasilkan 21 konsep pembangunan berkelanjutan yang menguraikan dua hal mendasar tentang pemanfaatan sumber daya alam:
- Hak berdaulat terhadap sumber daya alam yang bersifat lintas batas negara.
- Keterkaitan eksploitasi sumber daya (sebagai bagian dari kegiatan pembangunan) dengan kebijakan pengelolaan lingkungan sebagai tanggung jawab negara.
Proses perubahan: Pembangunan berkelanjutan adalah proses perubahan yang menyangkut seluruh aktivitas investasi, eksploitasi sumber daya, pengembangan teknologi, dan perubahan kelembagaan. Semua itu harus berada dalam keadaan selaras sehingga mampu meningkatkan potensi generasi masa kini dan masa depan dalam memenuhi kebutuhan. Proses perubahan ini adalah strategi yang mempertimbangkan pola pembangunan dengan sumber daya alam yang dimanfaatkan serta kesejahteraan lintas generasi. Karena itu, tujuan pembangunan ekonomi dan sosial harus diupayakan secara berkelanjutan.
1. Latar Belakang Pembangunan Berkelanjutan
Gagasan pembangunan berkelanjutan sebenarnya berakar dari pengelolaan hutan di Eropa pada abad ke-17 dan 18. Saat itu, eksploitasi hutan yang berlebihan menyebabkan menipisnya sumber daya kayu di Inggris. Akibat kerusakan itu, muncul pandangan bahwa menanam pohon adalah kewajiban nasional bagi setiap pemilik tanah, untuk mengurangi bahkan menghentikan eksploitasi berlebihan yang merusak sumber daya alam.
Tonggak penting:
- 1713: Hans Carl von Carlowitz, seorang manajer pertambangan, menerbitkan buku Sylvicultura Oeconomica tentang pengelolaan hutan. Ia berpendapat bahwa kayu sama pentingnya dengan makanan, sehingga harus digunakan dengan hati-hati untuk menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan kayu dan penebangan. Ini memungkinkan penggunaan yang terus-menerus.
- 1972: Konsep pembangunan berkelanjutan pertama kali secara resmi diperkenalkan sebagai tujuan sosial dalam Konferensi Lingkungan Hidup PBB yang pertama di Stockholm. Latar belakangnya adalah kekhawatiran global tentang kemiskinan yang berkepanjangan, ketidakadilan sosial, kebutuhan pangan, masalah lingkungan global, serta kesadaran bahwa sumber daya alam sangat terbatas untuk mendukung pembangunan ekonomi.
- 1980: Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam mengumumkan Strategi Konservasi Alam Dunia, yang memasukkan salah satu referensi pertama tentang pembangunan berkelanjutan sebagai prioritas global dan memperkenalkan istilah “pembangunan berkelanjutan”.
- 1982: Piagam Dunia PBB untuk Alam menetapkan lima prinsip konservasi untuk mengarahkan dan menilai perilaku manusia yang memengaruhi alam.
- 1992: Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan menerbitkan Piagam Bumi, yang menguraikan pembangunan masyarakat global secara adil, berkelanjutan, dan damai di abad ke-21. Selain itu, rencana Agenda 21 mengidentifikasi informasi, integrasi, dan partisipasi untuk membantu negara-negara mencapai pembangunan yang didasarkan pada pilar-pilar yang saling bergantung. Agenda ini menekankan bahwa setiap orang adalah pengguna sekaligus penyedia informasi dalam pembangunan berkelanjutan.
Sejak adanya Laporan Brundtland, konsep pembangunan berkelanjutan terus berkembang melampaui kerangka antargenerasi yang hanya terfokus pada “pertumbuhan ekonomi yang inklusif secara sosial dan berkelanjutan secara lingkungan”.
2. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Apa itu SDGs? Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) lahir dari Konferensi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan di Rio de Janeiro pada tahun 2012. Tujuannya adalah menghasilkan serangkaian tujuan universal yang memenuhi tantangan lingkungan, politik, dan ekonomi yang dihadapi dunia kita.
SDGs menggantikan MDGs: SDGs berperan menggantikan Millennium Development Goals (MDGs), yang dimulai pada tahun 2000 untuk mengatasi masalah kemiskinan. Warisan dan pencapaian MDGs memberikan pengalaman dan pelajaran berharga untuk mulai bekerja dengan tujuan baru. MDGs belum selesai. Melalui SDGs, tugas kita adalah bekerja keras untuk:
- Mengakhiri kelaparan
- Mencapai kesetaraan gender
- Meningkatkan pelayanan kesehatan
- Menyekolahkan setiap anak di luar sekolah dasar
SDGs juga merupakan seruan mendesak untuk mengubah dunia ke jalur yang lebih berkelanjutan.
Karakteristik SDGs:
- Komitmen berani untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai dan mengatasi tantangan mendesak dunia saat ini.
- Semua tujuan saling terhubung – keberhasilan dalam satu tujuan memengaruhi keberhasilan tujuan lain. Contoh: menangani perubahan iklim berdampak pada cara kita mengelola sumber daya alam, mencapai kesetaraan gender atau kesehatan yang lebih baik, memberantas kemiskinan, mendorong perdamaian dan masyarakat inklusif akan mengurangi ketidaksetaraan dan membantu ekonomi menjadi makmur.
- Kesempatan terbesar yang kita miliki untuk meningkatkan kehidupan generasi mendatang.
Perjanjian penting lainnya yang sejalan dengan SDGs:
- 2015: Kesepakatan bersejarah di Konferensi Iklim Paris (COP21)
- Maret 2015: Sendai Framework for Disaster Risk Reduction di Jepang, yang memberikan standar umum dan target untuk mengurangi emisi karbon, mengelola risiko perubahan iklim dan bencana alam, serta membangun kembali dengan lebih baik setelah krisis.
Keunikan SDGs: SDGs mencakup isu-isu yang memengaruhi kita semua. Mereka menegaskan kembali komitmen internasional untuk mengakhiri kemiskinan secara permanen di mana-mana, memastikan tidak ada yang tertinggal, dan melibatkan kita semua untuk membangun planet yang lebih berkelanjutan, lebih aman, dan lebih sejahtera bagi seluruh umat manusia.
3. Dampak Pembangunan Berkelanjutan
Dalam jangka panjang, pembangunan berkelanjutan memberikan solusi tentang bagaimana dunia bekerja dengan merencanakan kegiatan dan pertumbuhan ekonomi secara bijak.
Tiga prioritas keberlanjutan (urutan penting):
- Planet (lingkungan) – paling utama
- Manusia – kedua
- Produksi – ketiga
Dampak positif jika dilakukan dengan benar:
| Dampak Positif | Penjelasan |
|---|---|
| Menciptakan ketahanan lingkungan | Lingkungan mampu bertahan dan pulih dari berbagai gangguan. |
| Mengurangi pemborosan dan memangkas biaya | Contoh: pertanian berkelanjutan mengurangi pemborosan hasil pertanian hingga 40 persen. |
| Membantu pembangunan infrastruktur esensial | Seperti jembatan, jalan, dan pembangkit listrik tenaga air. |
| Meningkatkan kualitas hidup masyarakat | Baik dari segi kualitas fisik, menurunnya angka kematian, maupun meningkatnya kesejahteraan. |
Namun, masih ada kelemahan dan tantangan:
| Tantangan | Penjelasan |
|---|---|
| Faktor manusia masih jadi kelemahan | Kemajuan besar telah dicapai, tapi manusianya sendiri kadang jadi penghambat. |
| Pembangunan cepat di negara berkembang | Justru menurunkan standar hidup yang tinggi, memperburuk kemiskinan dan ketidaksetaraan. |
| Ketidaksetaraan menyabot inklusivitas | Mengurangi minat dalam sistem kesehatan dan kerangka kerja pelatihan, serta mengganggu keseimbangan stabilitas keuangan dan politik. |
| Dinamika populasi yang tumbuh cepat | Meskipun bisa meningkatkan pasar tenaga kerja, juga memunculkan ketidaksetaraan yang semakin luas, baik di negara berkembang maupun maju. |
| Urbanisasi, pertumbuhan penduduk, dan penuaan penduduk | Menyebabkan tekanan signifikan pada infrastruktur nasional, keuangan publik, pendidikan, dan sistem perawatan kesehatan. Akibatnya: eksploitasi tinggi terhadap sumber daya alam dan cenderung mengabaikan aspek lingkungan hidup. |
| Eksploitasi berlebihan | Semakin banyak penduduk, semakin banyak lahan dan sumber daya alam yang dibutuhkan. Eksploitasi berlebihan berdampak pada kelestarian SDA dan fungsi lingkungan itu sendiri. |
Dampak eksploitasi berlebihan yang bisa terjadi:
- Kekeringan
- Pencemaran (air, tanah, udara)
- Bencana alam (banjir, tanah longsor, dan sebagainya)
- Berbagai bentuk kerusakan lingkungan lainnya
4. Implementasi (Penerapan) Pembangunan Berkelanjutan
Penerapan pembangunan berkelanjutan saat ini sudah menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan.
Perubahan paradigma: Agenda 2030 untuk pembangunan berkelanjutan telah mengubah paradigma pembangunan yang lazim digunakan. Tiga komponen pembangunan berkelanjutan harus membentuk satu kesatuan yang seimbang:
- Lingkungan
- Ekonomi
- Sosial
Pondasi utama pembangunan berkelanjutan (disebut “budaya”):
- Kreativitas
- Warisan
- Pengetahuan
- Keragaman
Peran budaya: Budaya menjadi modal pengetahuan dalam sektor kegiatan ekonomi untuk membantu mendorong keberlanjutan. Melalui pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan yang inklusif dan seimbang, beriringan dengan membangun perdamaian dan keamanan. Kegiatan budaya (produk, jasa, warisan) memiliki nilainya sendiri melalui identitas, makna, dan nilai bagi kehidupan manusia, sehingga menjadi dimensi yang tak terpisahkan dari pembangunan berkelanjutan.
Kesimpulan
| Konsep | Penjelasan |
|---|---|
| Pembangunan Berkelanjutan | Pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. |
| Prinsip utama | Generasi sekarang tidak boleh merugikan generasi mendatang. |
| Tiga nilai | Ekonomi + moral + ekologi. |
| SDGs | 17 tujuan global untuk mengakhiri kemiskinan, melindungi planet, dan memastikan kemakmuran untuk semua (2015-2030). |
| Tiga prioritas | Planet → Manusia → Produksi (urutan penting). |
| Tiga komponen seimbang | Lingkungan + Ekonomi + Sosial. |
| Pondasi (budaya) | Kreativitas, warisan, pengetahuan, keragaman. |
| Peringatan | Pertumbuhan penduduk dan eksploitasi berlebihan bisa menyebabkan kerusakan lingkungan (kekeringan, pencemaran, bencana). |

