Dampak Revolusi Industri 4.0 dan Masyarakat 5.0 terhadap Perubahan Perilaku dalam Mitigasi Bencana


Tahukah kalian bahwa Jepang, negara yang sering dilanda gempa bumi, mampu menyelamatkan ribuan jiwa karena teknologi canggih mereka? Ketika gempa terjadi, sensor di jalanan langsung mengirimkan data kemacetan, drone terbang mencari korban, dan smartphone warga menerima informasi jalur evakuasi teraman. Inilah gambaran nyata bagaimana Revolusi Industri 4.0 dan Masyarakat 5.0 membantu manusia menghadapi bencana. Dari satelit yang memantau daerah rawan longsor hingga aplikasi di ponsel yang menunjukkan lokasi shelter terdekat, teknologi telah mengubah cara kita memprediksi, merespons, dan pulih dari bencana.


Pemanfaatan Teknologi untuk Mitigasi Bencana di Masyarakat 5.0

Masyarakat 5.0 memanfaatkan teknologi dan keaktifan semua sektor untuk menyiapkan kecerdasan berbasis big data (kumpulan data berukuran sangat besar). Analisis kecerdasan buatan (AI) terhadap big data ini mencakup berbagai macam informasi, antara lain:

Jenis InformasiSumber Data
Pengamatan daerah rawan bencanaSatelit, radar cuaca terestrial (di darat), atau drone
Informasi kerusakan bangunanSensor struktural yang dipasang di gedung/jembatan
Informasi kerusakan jalanSensor dari mobil yang melintas

Manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan: Solusi dari Masyarakat 5.0 dapat membantu mengurangi kerusakan dan mencapai pemulihan dini (cepat) akibat bencana.


Upaya Penanggulangan Bencana di Masyarakat 5.0

Masyarakat 5.0 diharapkan dapat melakukan upaya-upaya penanggulangan bencana sebagai berikut:

UpayaPenjelasanTeknologi Pendukung
1. Menyediakan tempat penampungan & informasi bantuanSetiap orang mendapat informasi melalui smartphone berdasarkan kondisi bencana, lalu dipandu ke tempat penampungan dengan amanSmartphone individu, perangkat lain, sistem informasi bencana real-time
2. Menemukan korban dengan cepatPencarian korban dilakukan segera melalui pakaian bantuan (yang dilengkapi sensor) dan robot penyelamat, lalu menyelamatkan mereka dari bangunan yang terkena bencanaPakaian bantuan pintar, robot penyelamat
3. Pengiriman material bantuan secara optimalBantuan logistik (makanan, obat-obatan, selimut) dikirim dengan cara paling efisienDrone, kendaraan pengiriman tanpa sopir (self-driving vehicle)
4. Berbagi informasi bencana lintas organisasiInformasi bencana dibagikan di seluruh organisasi terkait (BPBD, PMI, TNI, dll) untuk memfasilitasi respons cepatTeknologi digital, sistem informasi terintegrasi

Contoh Nyata: Setelah Gempa Besar di Jepang

Capaian menuju Masyarakat 5.0 ini terlihat jelas setelah gempa besar di Jepang. Serangkaian upaya canggih dilakukan, misalnya:

  • Pemantauan lalu lintas untuk memahami perilaku evakuasi manusia (ke mana mereka pergi, berapa banyak yang bergerak) dan kondisi jaringan jalan (jalan mana yang masih bisa dilalui, mana yang putus).
  • Data diperoleh dari informasi kendaraan (GPS mobil) dan data GPS smartphone warga.
  • Hasilnya: Fenomena kemacetan segera teratasi, sehingga korban jiwa dapat ditekan dan tidak bertambah lebih lanjut.

Filosofi di baliknya: Hal ini merupakan implementasi dari Masyarakat 5.0 yang bertujuan memberdayakan semua aktor di masyarakat (bukan hanya pemerintah), melibatkan setiap orang, dan memungkinkan masing-masing berpartisipasi secara aktif untuk hidup dengan aman, nyaman, dan selamat. Dengan pendekatan ini, berbagai risiko bencana dapat dikendalikan dan dampaknya diminimalkan.


Berbagai Kejadian Bencana Menjadi Perhatian Dalam Upaya Mitigasi Sebagai Dampak Dari Revolusi Industri 4.0 dan Masyarakat 5.0
Sumber gambar : Magnific (Freepik)

Bagaimana dengan Indonesia?

Beralih konteks ke negara kita Indonesia. Masyarakat Indonesia memang berubah dengan cepat, didorong oleh big data. Namun, integrasi antara dunia maya dan ruang fisik (seperti yang terjadi di Jepang) tampaknya masih jauh dari jangkauan kita. Masa depan yang disebut Masyarakat 5.0 mungkin memiliki peluang untuk diadopsi dan disesuaikan dengan konteks negara Indonesia, terutama dalam lingkungan khusus pencegahan bencana.

Upaya Indonesia terkait big data dalam penanggulangan bencana alam:

Nama ProgramLembaga PengelolaFungsinya
DIBI (Data Informasi Bencana Indonesia)BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana)Mengumpulkan dan menyediakan data bencana di Indonesia
The One Map InitiativeBIG (Badan Informasi Geospasial)Menyatukan peta-peta Indonesia dalam satu referensi geospasial
PetaJakarta.org (sekarang PetaBencana.id)Platform onlineMengubah Twitter menjadi pengumpulan data darurat dan layanan peringatan kritis selama banjir

Contoh keberhasilan PetaBencana.id: Pada tahun 2015, platform ini mampu memetakan 1.000 lokasi banjir di seluruh Jakarta secara real time (saat itu juga). Hal ini memungkinkan masyarakat untuk:

  • Berkontribusi pada informasi (melaporkan banjir di sekitarnya)
  • Berinteraksi dengan big data
  • Mendapatkan jawaban atas pertanyaan kritis seperti:
  • “Di mana shelter (tempat penampungan sementara) terdekat?”
  • “Rute mana yang paling aman menuju tempat kerja?”
  • “Di mana daerah rawan bencana?”

Potensi dan Tantangan Big Data untuk Manajemen Bencana di Indonesia

Potensi (dampak positif):
Data yang diperoleh dari berbagai sumber dengan resolusi spasial dan temporal yang lebih tinggi (data yang lebih detail dan lebih sering diperbarui) membawa upaya yang lebih efisien ke dalam manajemen bencana. Munculnya inovasi teknologi, termasuk:

  • Media sosial
  • Sistem berbasis lokasi (GPS)
  • Analisis data besar (big data analytics)

Ketiga hal ini dianggap sebagai alat yang kuat yang dapat membantu siklus manajemen bencana (mitigasi → kesiapsiagaan → respons → pemulihan). Big data juga berpotensi untuk menyelamatkan anggaran negara dari:

  • Redundansi (kegiatan yang tumpang tindih/boros)
  • Penipuan
  • Penyalahgunaan sumber daya dalam penanggulangan bencana

Tantangan (masalah yang dihadapi):
Saat ini, Indonesia sedang berjuang dengan beberapa masalah terkait big data:

TantanganPenjelasan
Data miningProses menggali dan mengolah data mentah menjadi informasi berguna masih sulit
AkurasiData yang dikumpulkan belum tentu akurat (sesuai kenyataan di lapangan)
KonsistensiData dari berbagai sumber sering tidak seragam atau saling bertentangan
KelengkapanMasih banyak data yang hilang atau tidak tercatat
Keamanan dataData rentan diretas atau disalahgunakan
PrivasiTransmisi dan penyimpanan data pribadi warga selalu terancam kebocoran

Pertanyaan untuk Masa Depan

Dengan kecerdasan buatan (AI), big data, dan interaksi manusia yang saling bertabrakan, beberapa pertanyaan penting masih belum terjawab:

PertanyaanImplikasi
Bagaimana pengetahuan digunakan?Siapa yang berhak mengakses data? Untuk tujuan apa?
Siapa yang akan memimpin peran dalam pengambilan keputusan?Apakah manusia atau AI yang memutuskan?
Seperti apa masyarakat masa depan?Akankah teknologi membuat kita lebih aman atau justru lebih rentan?

Kesimpulan

AspekPenjelasan
Teknologi mitigasi bencana di Masyarakat 5.0Satelit, radar, drone, sensor struktural, GPS smartphone
4 upaya penanggulangan bencana(1) Tempat penampungan + info bantuan (2) Pencarian korban (3) Pengiriman bantuan (4) Berbagi informasi lintas organisasi
Contoh sukses (Jepang)Pasca gempa, pemantauan lalu lintas via GPS kendaraan & smartphone berhasil atasi kemacetan, selamatkan korban
Upaya IndonesiaDIBI (BNPB), The One Map Initiative (BIG), PetaBencana.id
Keberhasilan PetaBencana.id (2015)Memetakan 1.000 lokasi banjir real time, warga bisa tanya shelter & rute aman
Potensi big dataEfisiensi manajemen bencana, hemat anggaran negara
Tantangan IndonesiaData mining, akurasi, konsistensi, kelengkapan, keamanan, privasi
Pertanyaan terbukaSiapa pengambil keputusan? Manusia atau AI? Seperti apa masa depan kita?