Setelah kita berhasil menemukan masalah geografi, langkah berikutnya adalah menyusun rumusan masalah. Tahap ini penting karena rumusan masalah ibarat “kompas” yang menentukan ke mana penelitian akan diarahkan. Kalau rumusan masalahnya jelas, pengumpulan data dan analisisnya juga akan lebih fokus.
Meskipun sering dianggap sama, masalah dan rumusan masalah sebenarnya berbeda. Masalah itu persoalan atau kesenjangan yang kita temukan, sedangkan rumusan masalah adalah pertanyaan yang akan dicari jawabannya melalui data dan penelitian. Keduanya tetap berhubungan erat karena masalah menjadi dasar dalam merumuskan pertanyaan penelitian.
1. Beda masalah dengan rumusan masalah
Masalah berbeda dengan rumusan masalah. Rumusan masalah adalah pertanyaan yang akan dicari jawaban dan kebenarannya melalui pengumpulan data serta penelitian yang dilakukan. Namun, keduanya tetap berkaitan erat karena masalah menjadi dasar dari perumusan masalah. Jadi, masalah itu “apa yang menjadi persoalan”, sedangkan rumusan masalah itu “pertanyaan penelitian yang mau dijawab”.
2. Rumusan masalah berbentuk pertanyaan penelitian
Rumusan masalah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan penelitian. Pertanyaan tersebut harus berlandaskan teori, konsep, dan prinsip yang berlaku dalam geografi. Artinya, pertanyaan penelitian harus mencerminkan sudut pandang keruangan, misalnya dengan menyebutkan lokasi, penyebaran, serta asosiasi antargejala atau fenomena, baik berupa relasi, interelasi, maupun interaksi. Dengan begitu, pertanyaan yang disusun benar-benar berciri khas geografi, bukan pertanyaan umum yang bisa dipakai di bidang lain.
3. Jika pertanyaan sulit dijawab
Jika masalah geografi tidak mudah dijawab atau sulit dipecahkan, maka perlu dilakukan penelitian ulang atau peninjauan kembali. Maksudnya, pertanyaan penelitian sebaiknya tetap realistis: bisa dijawab dengan data, metode, dan batas penelitian yang tersedia. Kalau pertanyaannya terlalu luas atau datanya tidak mungkin diperoleh, rumusan masalah perlu diperbaiki agar penelitian bisa berjalan.
4. Contoh rumusan masalah geografi
- Faktor apa yang paling berpengaruh terhadap longsor di daerah Puncak Bogor?
Pertanyaan ini sudah menyebut lokasi (Puncak Bogor) dan mengarah pada hubungan antarvariabel, misalnya kemiringan lereng, curah hujan, tutupan lahan, atau aktivitas manusia. - Mengapa masyarakat kota lebih mudah mengalami perubahan budaya?
Pertanyaan ini mengarah pada sebab terjadinya fenomena sosial di ruang perkotaan. Meskipun belum menyebut lokasi secara spesifik, pertanyaan ini bisa dipersempit, misalnya menjadi “Mengapa masyarakat Kota X lebih mudah mengalami perubahan budaya dibandingkan masyarakat di daerah pinggiran?” - Bagaimana hubungan antara faktor perubahan penggunaan lahan dengan banjir di Jakarta?
Pertanyaan ini sudah menunjukkan lokasi (Jakarta), variabel yang dikaitkan (perubahan penggunaan lahan dan banjir), serta hubungan antargejala yang mau dijelaskan. Ini contoh rumusan masalah yang cukup mencerminkan kajian keruangan.
Menyusun rumusan masalah geografi bukan sekadar membuat pertanyaan. Pertanyaan itu harus berangkat dari masalah yang jelas, berlandaskan teori dan prinsip geografi, mencerminkan kajian keruangan, serta memungkinkan untuk dijawab melalui data dan penelitian. Dengan rumusan masalah yang baik, penelitian geografi akan lebih terarah dan hasilnya lebih bermakna.


