Pengertian Desa

Definisi Desa Menurut Para Ahli Dalam Kajian Ilmu Geografi

Pola Keruangan Desa

= – = – =

Membahas ilmu Geografi yang berkaitan dengan konsep interaksi interdependensi pasti akan kita akan selalu mengambil contoh termudah dari fenomena interaksi antara desa dengan kota. Pada saat membahas ilmu Geografi yang berkaitan dengan aspek non fisik pun kita juga akan sering mengkaitkan desa dengan kota. Pada prinsip geografi yaitu interelasi kita juga akan sering menggunakan fenomena interaksi desa dan kota untuk mencontohkan prinsip keterkaitan antara aktifitas manusia dengan manusia. Begitu pula dengan objek material Geografi tentang antroposfer dengan berbagai aktifitas manusia di dalamnya.

Desa dan kota merupakan perwujudan geografis bentukan manusia yang saling berkaitan dan memiliki hubungan ketergantungan di antara keduanya. Fungsi hinterland desa yang memasok bahan kebutuhan pokok kota dillengkapi dengan fungsi kota sebagai pemasok kebutuhan sekunder bagi masyarakat desa. Lalu apakah cuma hal itu saja yang membedakan antara desa dengan kota? Tentu saja tidak.
Nah pada posting ini kita akan membahas tentang pengertian desa dalam kajian ilmu Geografi.

Desa secara adminitratif menurut Sutardjo Kartohadikusumo(1953), diartikan sebagai suatu kesatuan hukum dan di dalamnya bertempat tinggal sekelompok masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri.
Sedangkan menurut
Undang-Undang No 5 Tahun 1979, desa adalah suatu wilayah yang ditempati sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat yang di dalamnya merupakan kesatuan hukum yang memiliki organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah camat, dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri (otonomi) dalam ikatan  egara kesatuan Republik Indonesia. Adapun kelurahan adalah suatu wilayah yang  ditempati oleh sejumlah penduduk yang memiliki organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah camat yang tidak berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri.

Lanjutkan membaca “Pengertian Desa”

Yulia Enshanty – Pemanfaatan Stereoskop Cermin Untuk Melakukan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh

Dalam kegiatan pembelajaran Geografi terdapat materi yang membahas tentang salah satu cabang Ilmu Geografi yang berkembang pesat seiring dengan kemajuan teknologi yaitu Penginderaan Jauh. Materi penginderaan jauh di tingkat SMA merupakan materi dasar yang harus dikuasai siswa. Dalam kurikulum 2013 revisi materi Penginderaan Jauh dipecah dalam 2 bagian yaitu materi konsep dasar penginderaan jauh di kelas X semester ganjil dan materi pemanfaatan di kelas XII semester 2.
Penginderaan jauh merupakan ilmu yang berbasis teknologi sehingga dalam kegiatan pembelajaran di dalamnya akan berhubungan dengan kegiatan praktik. Salah satu bentuk kegiatan praktik dalam penginderaan jauh adalah interpretasi citra hasil penginderaan jauh. Interpretasi citra merupakan kegiatan menafsir, mengkaji, mengidentifikasi, dan mengenali obyek pada citra, selanjutnya menilai arti penting dari obyek tersebut. Untuk melakukan interpretasi citra dibutuhkan foto/citra hasil penginderaan jauh yang memiliki daerah bertampalan dan alat untuk melakukan interpretasi.

Kegiatan interpretasi citra pada masa sekarang ini bisa dilakukan dengan menggunakan software-software untuk analisis citra penginderaan jauh seperti Envi, Erdas Imagine dan banyak aplikasi lain yang berbasis pemetaan SIG seperti ArcGIS. Pada beberapa tahun lalu kegiatan interpretasi citra penginderaan jauh menggunakan media alat untuk interpretasi yaitu Stereoskop. Alat ini sampai sekarang juga masih digunakan tetapi dengan semakin majunya perkembangan teknologi informasi dan bermunculan aplikasi-aplikasi pengolah citra digital maka fungsi alat tersebut menjadi tidak begitu populer lagi seperti pada masa itu.

Lanjutkan membaca “Yulia Enshanty – Pemanfaatan Stereoskop Cermin Untuk Melakukan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh”

Sofyanto – Pemanfaatan Media Poster Untuk Penyampaian Kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh

Pandemi Covid 19 sampai saat ini masih berlangsung di pelbagai wilayah di Indonesia. Kapan berakhirnyapun belum bisa diperkirakan dengan pasti. Kondisi ini menyebabkan berbagai kegiatan kehidupan mengalami hambatan, tak terkecuali dengan dunia pendidikan. Pada saat sebelum pandemi menyerang kegiatan belajar mengajar dilakukan secara tatap muka secara klasikal di dalam kelas. Aneka model pembelajaran dapat dilakukan dalam penyampaian materi pembelajaran. Peran guru sebagai fasilitator dalam kegiatan pembelajaranpun bisa dilakukan.
Tetapi kegiatan tersebut berubah drastis begitu pandemi Covid mulai meluas ke wilayah-wilayah di Indonesia. Penerapan Pembatasan Aktivitas penduduk hingga penerapan protokol kesehatan untuk mengurangi penyebaran wabah menyebabkan kegiatan pembelajaran secara tatap muka di kelas tidak dapat dilakukan lagi.

Pandemi membuat lembaga-lembaga pendidikan mulai menghentikan kegiatan tatap muka. Kegiatan pembelajaran diganti menjadi sebuah pembelajaran yang bersifat daring. Kegiatan pembelajaran daring dilakukan dengan menggunakan media telekomunikasi untuk menghindari potensi terjadinya kerumunan. Sehingga siswa-siswi tetap dapat belajar tanpa harus tatap muka dengan gurunya.
Pembelajaran daring yang dilakukan ini juga memaksa guru untuk menciptakan atau menerapkan model pembelajaran yang dapat efektif digunakan selama pandemi. Kreatifitas guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran menjadi berkembang menyesuaikan dengan kebutuhan.

Lanjutkan membaca “Sofyanto – Pemanfaatan Media Poster Untuk Penyampaian Kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh”

Tjatur Rosediany – Pembelajaran Geografi Dengan Puzzle Peta (Puzpa)

Belajar Geografi selalu tidak akan lepas dengan Peta. Sebagai ciri khas dan produk ilmu Geografi peta. Peta merupakan media penyampaian informasi yang akan mempermudah manusia dalam melakukan orientasi lapangan. Bentuk orientasi lapangan tersebut misalnya pada waktu akan melakukan perjalanan menuju suatu tempat. Bisa juga pada saat seseorang ingin mengetahui lokasi di mana dia berada. Peta dapat mempelajari fenomena-fenomena yang terjadi di permukaan bumi baik fenomena fisik (alam) maupun fenomena non fisik (manusia). Penggunaan peta pada akhir-akhir ini dapat dikatakan merupakan kegiatan yang vital bagi seseorang yang akan melakukan perjalan ke suatu tempat, utamanya ke tempat yang belum pernah dia tuju.

Dalam kegiatan pembelajaran Geografi sendiri, penggunaan peta lazim digunakan oleh guru untuk menjelaskan fenomena di permukaan bumi. Penggunaan peta dengan cepat akan menunjukkan lokasi suatu fenomena. Gambar yang bersifat visual dapat merangsang siswa untuk lebih cepat menemukan lokasi suatu wilayah atau suatu obyek di permukaan bumi dibandingkan hanya dengan ucapan secara lesan.

Lanjutkan membaca “Tjatur Rosediany – Pembelajaran Geografi Dengan Puzzle Peta (Puzpa)”