Klasifikasi Desa 02

Klasifikasi Desa Menurut Kepadatan Penduduk, Luas Wilayah dan Mata Pencahariannya

Pola Keruangan Desa

= – = – =

Pada saat kamu pergi ke beberapa desa kamu mungkin akan mendapati ada desa yang hanya memiliki penduduk sedikit, ada desa yang penduduknya cukup banyak sehingga sekilas kamu akan berpikir malah seperti perkotaan. Desa merupakan wilayah kecil yang memiliki ciri khas yang membedakan dengan wilayah lainnya. Salah satu hal yang membedakan desa dengan kota adalah jumlah penduduk yang tinggal di wilayah tersebut. Jumlah penduduk desa jelas lebih sedikit daripada kota. Namun seperti halnya kota, banyak sedikitnya jumlah penduduk di suatu desa merupakan potensi sumber daya manusia yang dapat memperlancar pembangunan dan perkembangan desa.

Baca Juga : Klasifikasi Desa Berdasarkan Potensi Wilayah, Klasifikasi Desa Berdasarkan Tingkat Perkembangan Desa.

Berdasarkan kepadatan penduduknya, desa diklasifikasikan dalam 5 kelompok yaitu :

  1. Desa terkecil dengan kepadatan penduduk <100 penduduk/km2
  2. Desa kecil dengan kepadatan penduduk 100-500 penduduk/km2
  3. Desa sedang dengan kepadatan penduduk 500-1.500 penduduk/km2
  4. Desa besar dengan kepadatan penduduk 1.500-3.000 penduduk/km2
  5. Desa terbesar dengan kepadatan penduduk 3.000-4.500 penduduk/km2

Berdasarkan luas wilayahnya, desa diklasifikasikan dalam 5 kelompok yaitu :

  1. Desa terkecil dengan luas wilayah 0 – 2 km2
  2. Desa kecil dengan luas wilayah 2 – 4 km2
  3. Desa sedang dengan luas wilayah 4 – 6 km2
  4. Desa besar dengan luas wilayah 6 – 8 km2
  5. Desa terbesar dengan luas wilayah 8 – 10 km2

Lanjutkan membaca “Klasifikasi Desa 02”

Klasifikasi Desa 01

Klasifikasi Desa Berdasarkan Potensi Wilayah

Pola Keruangan Desa

= – = – =

Kita sering mendapati ada desa yang begitu maju dan berkembang pesat. Beraneka sarana-prasaran penunjang kehidupan layaknya di perkotaan terdapat di desa itu. Jalan yang beraspal baik dan halus, pasar yang aktif setiap hari, kantor atau tempat-tempat usaha yang banyak. Penduduk dengan tingkat pendidikan dan pendapatan yang tergolong tinggi juga banyak dijumpai di desa seperti ini.

Di satu kesempatan lain kita juga sering mendapati ada desa yang memiliki kondisi yang berkebalikan dengan desa di atas. Desa tersebut tidak pernah berkembang, gerak pembangunan tidak terlihat di desa tersebut. Sarana-sarana penunjang kehidupan cenderung sederhana atau bahkan tidak ada.

Kenapa ada desa yang berbeda-beda tingkat kemajuan yang dialaminya? Tentu ini tidak lepas dari potensi yang dimiliki oleh desa tersebut yang menjadi modal besar dalam meningkatkan kemajuah desa.

Baca Juga : Klasifikasi Desa Menurut Kepadatan Penduduk, Luas Lahan, Potensi Dominan dan Mata Pencaharian Dominan, Klasifikasi Desa Berdasarkan Tingkat Perkembangan Desa.

Potensi desa adalah sumber daya yang dimiliki desa yang dapat digunakan dan dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Potensi yang dimiliki oleh suatu wilayah akan memengaruhi perkembangan wilayah tersebut.

Lanjutkan membaca “Klasifikasi Desa 01”

Ciri-ciri Desa

Karakteristik Yang Menjadi Ciri Khas Wilayah Perdesaan

Pola Keruangan Desa

= – = – =

Wilayah perdesaan pada umumnya masih diasosiasikan sebagai daerah yang berlokasi di daerah pedalaman, jauh dari lingkungan perkotaan, dan memiliki keterikatan yang kuat terhadap kehidupan tradisional. Dalam masyarakat desa berlaku keteraturan kehidupan sosial yang mencakup kegiatan-kegiatan ekonomi, keagamaan, politik, dan hukum yang sesuai dengan lingkungan hidup setempat.

Dilihat dari karakteristik wilayahnya, kawasan perdesaan masih lebih bersifat alamiah, belum banyak tersentuh oleh teknologi modern dan perkembangan pembangunan. Selain sebagai lahan permukiman penduduk, sebagian wilayah desa terdiri atas lahan pertanian, perkebunan, atau tertutup oleh hutan alami, baik itu wilayah desa yang terletak di wilayah pantai, dataran rendah, maupun dataran tinggi. Adapun kota sebagian besar wilayahnya ter tutup oleh kawasan permukiman penduduk, gedung-gedung perkantoran, fasilitas sosial, kawasan industri, dan kawasan lainnya.

Kehidupan masyarakat perdesaan dicirikan oleh kegiatan yang pada umumnya bercorak agraris. Aktivitas kesehariannya masih didominasi oleh pengaruh lingkungan alam. Dengan kata lain, pengaruh lingkungan atau kondisi alam setempat masih sangat kuat mewarnai tatanan dan pola hidup penduduk desa. Hubungan antarwarga masyarakat desa sangat erat, saling mengenal, dan gotong royong. Penderitaan seseorang di perdesaan pada umumnya menjadi derita semua pihak. Menurut para ahli sosiologi, hubungan masyarakat semacam ini dikenal dengan istilah gemeinschaft (paguyuban)

Menurut Direktorat Jenderal Pembangunan Desa (DITJEN BANGDES), ciri-ciri desa antara lain sebagai berikut :

Lanjutkan membaca “Ciri-ciri Desa”

Unsur Desa

Unsur-unsur Desa Menurut R. Bintarto

Pola Keruangan Desa

= – = – =

Jika kalian pergi berkunjung ke sebuah desa, maka apa saja yang akan kalian amati tentang unsur-unsur yang memberikan ciri-ciri wilayah tersebut disebut dengan desa?
Pertama yang akan kalian amati pasti keadaan alamnya. Bagaimana kondisi bentuk permukaan buminya, apakah bergunung ,berbukit atau daerah rendah yang masih banyak pepohonan rindang yang membuat kita merasa segar saat berada di sana.

Lalu pengamatan akan beralih ke model-model bangunan atau rumah dan pekerjaan sehari-hari para penduduknya. Kalian akan mengamati bentuk-bentuk rumah di pedesaan seperti apa, lalu akan membandingkannya dengan rumah-rumah di kota. Pekerjaan atau kegiatan sehari-hari para penduduk desa juga kemudian akan turut kalian amati.
Nah, apakah hanya itu saja unsur-unsur desa? Mari kita baca lebih lanjut tentang unsur desa menurut tokoh Geografi dalam negeri berikut ini.

Desa menurut R. Bintarto adalah suatu hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dan lingkungannya.
Hasil perpaduan tersebut merupakan suatu perwujudan atau ketampakan geografis yang ditimbulkan oleh faktor-faktor alamiah maupun sosial, seperti fisiografis, sosial ekonomi, politik, dan budaya yang saling berinteraksi antar unsur tersebut dan juga dalam hubungan nya dengan daerah-daerah lain.

Selanjutnya, Bintarto mengemukakan bahwa minimal ada tiga unsur utama desa, antara lain sebagai berikut.

Lanjutkan membaca “Unsur Desa”

Pengertian Desa

Definisi Desa Menurut Para Ahli Dalam Kajian Ilmu Geografi

Pola Keruangan Desa

= – = – =

Membahas ilmu Geografi yang berkaitan dengan konsep interaksi interdependensi pasti akan kita akan selalu mengambil contoh termudah dari fenomena interaksi antara desa dengan kota. Pada saat membahas ilmu Geografi yang berkaitan dengan aspek non fisik pun kita juga akan sering mengkaitkan desa dengan kota. Pada prinsip geografi yaitu interelasi kita juga akan sering menggunakan fenomena interaksi desa dan kota untuk mencontohkan prinsip keterkaitan antara aktifitas manusia dengan manusia. Begitu pula dengan objek material Geografi tentang antroposfer dengan berbagai aktifitas manusia di dalamnya.

Desa dan kota merupakan perwujudan geografis bentukan manusia yang saling berkaitan dan memiliki hubungan ketergantungan di antara keduanya. Fungsi hinterland desa yang memasok bahan kebutuhan pokok kota dillengkapi dengan fungsi kota sebagai pemasok kebutuhan sekunder bagi masyarakat desa. Lalu apakah cuma hal itu saja yang membedakan antara desa dengan kota? Tentu saja tidak.
Nah pada posting ini kita akan membahas tentang pengertian desa dalam kajian ilmu Geografi.

Desa secara adminitratif menurut Sutardjo Kartohadikusumo(1953), diartikan sebagai suatu kesatuan hukum dan di dalamnya bertempat tinggal sekelompok masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri.
Sedangkan menurut
Undang-Undang No 5 Tahun 1979, desa adalah suatu wilayah yang ditempati sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat yang di dalamnya merupakan kesatuan hukum yang memiliki organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah camat, dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri (otonomi) dalam ikatan  egara kesatuan Republik Indonesia. Adapun kelurahan adalah suatu wilayah yang  ditempati oleh sejumlah penduduk yang memiliki organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah camat yang tidak berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri.

Lanjutkan membaca “Pengertian Desa”

Yulia Enshanty – Pemanfaatan Stereoskop Cermin Untuk Melakukan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh

Dalam kegiatan pembelajaran Geografi terdapat materi yang membahas tentang salah satu cabang Ilmu Geografi yang berkembang pesat seiring dengan kemajuan teknologi yaitu Penginderaan Jauh. Materi penginderaan jauh di tingkat SMA merupakan materi dasar yang harus dikuasai siswa. Dalam kurikulum 2013 revisi materi Penginderaan Jauh dipecah dalam 2 bagian yaitu materi konsep dasar penginderaan jauh di kelas X semester ganjil dan materi pemanfaatan di kelas XII semester 2.
Penginderaan jauh merupakan ilmu yang berbasis teknologi sehingga dalam kegiatan pembelajaran di dalamnya akan berhubungan dengan kegiatan praktik. Salah satu bentuk kegiatan praktik dalam penginderaan jauh adalah interpretasi citra hasil penginderaan jauh. Interpretasi citra merupakan kegiatan menafsir, mengkaji, mengidentifikasi, dan mengenali obyek pada citra, selanjutnya menilai arti penting dari obyek tersebut. Untuk melakukan interpretasi citra dibutuhkan foto/citra hasil penginderaan jauh yang memiliki daerah bertampalan dan alat untuk melakukan interpretasi.

Kegiatan interpretasi citra pada masa sekarang ini bisa dilakukan dengan menggunakan software-software untuk analisis citra penginderaan jauh seperti Envi, Erdas Imagine dan banyak aplikasi lain yang berbasis pemetaan SIG seperti ArcGIS. Pada beberapa tahun lalu kegiatan interpretasi citra penginderaan jauh menggunakan media alat untuk interpretasi yaitu Stereoskop. Alat ini sampai sekarang juga masih digunakan tetapi dengan semakin majunya perkembangan teknologi informasi dan bermunculan aplikasi-aplikasi pengolah citra digital maka fungsi alat tersebut menjadi tidak begitu populer lagi seperti pada masa itu.

Lanjutkan membaca “Yulia Enshanty – Pemanfaatan Stereoskop Cermin Untuk Melakukan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh”