Faktor Yang Mempertinggi Jumlah Kelahiran (Pronatalitas)

Bertambahnya jumlah penduduk di suatu wilayah dipengaruhi oleh faktor tinggi rendahnya jumlah kelahiran dan banyak sedikitnya penduduk pendatang (migrasi masuk) yang masuk ke wilayah tersebut. Jika jumlah kelahiran tinggi dan penduduk pendatang juga tinggi kemudian di satu sisi jumlah kematian dan migrasi keluar rendah maka wilayah tersebut akan mengalami pertambahan penduduk yang tinggi.

Jumlah kelahiran dapat berpengaruh terhadap bertambahnya jumlah penduduk baik secara cepat maupun lambat. Jika jumlah penduduk bertambah dengan cepat, maka dapat diidentifikasi ada beberapa faktor-faktor pendukung yang menyebabkan jumlah kelahiran di wilayah tersebut tinggi. Faktor-faktor yang menunjang tingginya jumlah kelahiran itu disebut dengan Pronatalitas.

Baca juga : Antinatalitas, Promortalitas, Antimortalitas.

Ada beberapa faktor yang menunjang tingginya jumlah kelahiran di suatu wilayah, antara lain :

Lanjutkan membaca “Faktor Yang Mempertinggi Jumlah Kelahiran (Pronatalitas)”

Kelahiran (Natalitas) dan Faktor yang Mempengaruhinya

Pertumbuhan penduduk di suatu wilayah dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor yang bersifat menambah jumlah penduduk dan faktor yang bersifat mengurangi jumlah penduduk. Faktor yang bersifat menambah jumlah penduduk di suatu wilayah adalah kelahiran dan migrasi masuk, sedangkan faktor yang bersifat mengurangi adalah kematian dan migrasi keluar. Pada tulisan ini kita akan membahasa mengenai salah satu faktor yang bersifat menambah jumlah penduduk yaitu kelahiran (natalitas).

Kelahiran (natalitas) adalah peritiswa lahir/keluarnya bayi dari rahim ibunya baik melalui proses persalinan secara normal maupun lewat operasi secara medis.

Kelahiran ada 2 macam, antara lain :

  1. Lahir Hidup, yaitu bayi yang dilahirkan dalam kondisi hidup yang ditandai dengan adanya tanda-tanda kehidupan seperti adanya gerakan pada bagian tubuh (tangan, kaki, kepala) detak jantung, denyut nadi dan hembusan nafas.
  2. Lahir Mati, yaitu bayi yang dilahirkan dalam kondisi sudah dalam kondisi mati atau tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti gerakan bagian tubuh, detak jantung, denyut nadi dan hembusan nafas. Bayi yang lahir dalam kondisi telah meninggal tidak diperhitungkan sebagai kelahiran dalam fertilitas.
Lanjutkan membaca “Kelahiran (Natalitas) dan Faktor yang Mempengaruhinya”

Proyeksi Penduduk untuk Memperkirakan Jumlah Penduduk Di Masa Mendatang

Populasi penduduk dunia bertambah dari waktu ke waktu dan akan terus bertambah baik cepat maupun lambat. Namun, abad ke-20 adalah masa dengan pertumbuhan populasi dunia benar-benar meningkat, dan selama 100 tahun terakhir, populasi planet ini telah bertambah tiga kali lipat. Peningkatan besar dalam populasi manusia ini sebagian besar disebabkan oleh perbaikan dalam makanan, sanitasi dan obat-obatan, terutama vaksinasi wajib terhadap banyak penyakit.

Berdasarkan timeline dari worldpopulationreview.com,  jumlah penduduk di bumi pada tahun 1 Masehi sebesar 200 juta jiwa,  tahun 1000 sebesar 275 juta jiwa, tahun 1500 sebesar 450 juta jiwa, tahun 1650 sebesar 500 juta jiwa, tahun 1750 sebesar 700 juta jiwa, tahun 1804 sebesar 1 miliar jiwa, tahun 1850 sebesar 1,2 miliar jiwa, tahun 1900 sebesar 1,6 miliar jiwa, sebesar tahun 1927 sebesar 2 miliar jiwa, tahun 1950 sebesar 2,55 miliar jiwa, tahun 1955 sebesar 2,8 miliar jiwa, tahun 1960 sebesar 3 miliar jiwa, tahun 1970 sebesar 3,7 miliar jiwa, tahun 1985 sebesar 4,85 miliar jiwa, tahun 1999 sebesar 6 miliar jiwa, tahun 2011 sebesar 7 miliar jiwa dan pada tahun 2025 jumlah penduduk dunia diperkirakan mencapai 8 miliar

Informasi mengenai jumlah penduduk pada suatu waktu tertentu atau masa yang akan datang sangat dibutuhkan dalam perencanaan program dan penentuan kebijakan. Oleh karena itu, perlu dibuat suatu perkiraan mengenai jumlah penduduk. Untuk membuat perkiraan jumlah penduduk dikenal dengan istilah proyeksi penduduk (population projection).

Proyeksi penduduk dapat dibuat untuk mengetahui keadaan penduduk pada masa depan (forward projection) atau keadaan penduduk pada masa lalu (backward projection). Proyeksi penduduk dapat berupa ramalan jumlah penduduk berdasarkan penghitungan dari jumlah penduduk masa lalu, dan masa mendatang dengan menggunakan asumsi tertentu tentang perubahan tingkat pertumbuhan penduduk dan komponen-komponennya.

Lanjutkan membaca “Proyeksi Penduduk untuk Memperkirakan Jumlah Penduduk Di Masa Mendatang”

Pertumbuhan Penduduk di Suatu Wilayah

Pada satu waktu kita pasti pernah mendengar istilah klan, marga atau trah. Dalam masyarakat Jawa Trah adalah sekelompok individu yang saling memiliki hubungan kekerabatan (silsilah) satu-sama lain. Klan dan marga secara umum juga memiliki arti yang sama dengan trah. Suatu trah merupakan kumpulan keluarga-keluarga yang masih mempunyai hubungan kekerabatan. Trah ini pada awalnya hanya terdiri dari 2 orang yang membentuk keluarga. Kemudian mereka mempunyai anak, beberapa tahun kemudian anak-anaknya berkeluarga dan memiiliki anak yang oleh 2 orang pertama tadi disebut cucu. Cucu-cucu kemudian menikah mempunyai anak yang kemudian disebut dengan buyut, dan seterusnya. Suatu trah terbentuk oleh anggota yang berjumlah sedikit dan kemudian menjadi berkembang dan bertambah dalam jumlah yang banyak.

Begitu pula dengan kependudukan di suatu wilayah. Jumlah penduduk di suatu wilayah baik dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, propinsi hingga tingkat nasional pasti mengalami perubahan. Perubahan jumlah penduduk dapat berupa bertambah maupun berkurangnya jumlah penduduk. Besar kecilnya perubahan dipengaruhi oleh faktor-faktor kependudukan. Perubahan itu disebut dengan pertumbuhan penduduk.

Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi penduduk dalam kurun waktu tertentu yang dipengaruhi oleh faktor kelahiran, kematian dan migrasi. Dalam demografi dikenal istilah pertambahan penduduk alami dan pertambahan penduduk total. Dimana pertambahan penduduk alami hanya di pengaruhi oleh kelahiran dan kematian, sedangkan pertambahan penduduk total di pengaruhi oleh kelahiran, kematian, migrasi masuk (imgrasi) dan migrasi keluar (emigrasi).

Lanjutkan membaca “Pertumbuhan Penduduk di Suatu Wilayah”

Komposisi Penduduk Berdasarkan Kriteria Geografis

Kegiatan pendataan jumlah penduduk suatu negara melalui sensus penduduk akan menghasilkan data kependudukan dalam kriteria yang beranekaragam. Informasi yang rinci berupa biodata pada setiap penduduk kemudian disederhanakan dalam pengelompokan menurut kriteria tertentu.

Salah satu bentuk pengelompokan data kependudukan yang banyak digunakan untuk kepentingan pemerintah maupun kepentingan masyarakat secara umum adalah pengelompokan data penduduk menurut kriteria ekonomi. Pengelompokan ini kemudian disebut dengan Komposisi Penduduk Geografis.

Komposisi Penduduk Geografis adalah pengelompokan penduduk berdasarkan letak wilayah tempat tinggalnya, dalam hal ini kriteria yang ditetapkan oleh BPS adalah daerah perkotaan dan perdesaan.

Dari hasil pengelompokan penduduk menurut kriteria geografis tersebut dapat dijadikan acuan bagi pemerintah untuk mengevaluasi setiap kebijakan yang telah dilaksanakan. Hasil evaluasi kemudian dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk tetap melaksanakan kebijakan yang telah dilaksanakan atau memperbarui kebijakan tersebut.

Sebagai contoh berdasarkan hasil evaluasi data kependudukan secara geografis terjadi persentase urbanisasi yang besar di wilayah Indonesia,  maka dari hasil evaluasi tersebut pemerintah dapat menerapkan kebijakan baru untuk menangani masalah urbanisasi tersebut.

Lanjutkan membaca “Komposisi Penduduk Berdasarkan Kriteria Geografis”

Komposisi Penduduk Berdasarkan Kriteria Ekonomi

Kegiatan pendataan jumlah penduduk suatu negara melalui sensus penduduk akan menghasilkan data kependudukan dalam kriteria yang beranekaragam. Informasi yang rinci berupa biodata pada setiap penduduk kemudian disederhanakan dalam pengelompokan menurut kriteria tertentu.

Salah satu bentuk pengelompokan data kependudukan yang banyak digunakan untuk kepentingan pemerintah maupun kepentingan masyarakat secara umum adalah pengelompokan data penduduk menurut kriteria ekonomi. Pengelompokan ini kemudian disebut dengan Komposisi Penduduk Ekonomi.

Komposisi Penduduk Ekonomi adalah pengelompokan penduduk berdasarkan kriteria ekonomi seperti jenis pekerjaan penduduk, tingkat pendapatan penduduk, tingkat konsumsi penduduk dan tingkat kesejahteraan penduduk.

Dari hasil pengelompokan penduduk menurut kriteria ekonomi tersebut dapat dijadikan acuan bagi pemerintah untuk mengevaluasi setiap kebijakan yang telah dilaksanakan pada bidang ekonomi. Hasil evaluasi kemudia dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk tetap melaksanakan kebijakan yang telah dilaksanakan atau memperbarui kebijakan tersebut.

Lanjutkan membaca “Komposisi Penduduk Berdasarkan Kriteria Ekonomi”