Soal menjodohkan pada prinsip pengerjaannya adalah siswa membuat garis yang menghubungkan soal/pertanyaan di kolom soal dengan jawaban yang ada di kolom jawaban, atau cukup menuliskan huruf/nomor jawaban ke titik-titik/kotak/tanda kurung di dekat kalimat soal. Soal dengan model menjodohkan soal – jawaban ini cenderung lebih banyak digunakan di jenjeng Sekolah Dasar (SD) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP), tapi kadang juga ditermukan pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Soal menjodohkan ini bisa membantu siswa untuk lebih fokus daalam membaca soal dan mencari jawaban yang sesuai, sehingga konsentrasi dalam belajar dapat lebih ditingkatkan lagi. Soal menjodohkan adalah soal yang bisa digunakan untuk membuat test yang bersifat obyektif dan membantu meningkatkan konsentrasti siswa yang mengerjakan.
Menjodohkan soal dengan jawabannya di lembar kertas soal
= – = – =
Dalam sebuah buku pelajaran kita akan menemukan soal-soal latihan yang sudah disertakan di dalamnya. Soal-soal tersebut disertakan dalam buku untuk digunakan sebagai bahan latihan bagi siswa yang menggunakan buku tersebut sebagai bahan/sumber belajar belajar. Dengan adanya soal-soal latihan dalam sebuah buku pelajaran tentu akan mendorong siswa untuk membaca dan mempelajari isi buku pelajaran tersebut. Lain halnya jika sebuah buku pelajaran tidak memuat soal-soal latihan sama sekali. Ada banyak model soal yang bisa dibuat oleh pengarang buku pelajaran, dari soal pilihan ganda (multiple choice), soal pilihan dengan jawaban lebih dari satu (multipple chek), soal uraian baik singkat, terbuka mapun terstruktur, soal menjodohkan (matching), soal benar salah (trus/false), soal analisa hubungan (relationship analisys) dan aneka bentuk soal yang lain. Dari beberapa jenis soal yang saya tulis tadi, kali ini saya akan memposting tentang soal dengan model menjodohkan
Pro Anti Natalitas Mortalitas Mempertinggi Menghambat Angka Kelahiran Angka Kematian
Oleh : Andi Hidayat
===
Membaca judul di atas mungkin akan membuat anda mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya apa maksud judul saya ini. Yap… judul yang panjang dan sepertinya acak-acakan, tetapi itulah inti dari dari postingan ini. Setelah kemarin saya memposting materi tentang model pembelajaran Make A Match, kali ini saya akan melanjutkan lagi tulisan tentang Make A Match dengan tema/materi yang lebih yang lebih spesifik dan unik yaitu materi tentang Natalitas dan Mortalitas. Hmmm … tidak unik juga sih, karena bisa juga diterapkan pada materi pelajaran yang memiliki karakteristik yang sama. Seperti apa model Make A Match dengan materi Natalitas Mortalitas ini? Perhatikan gambar berikut ini.
Ada 8 siswa yang membentuk 4 kelompok di mana setiap kelompok memegang kertas yan berisikan istilah tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya angka kelahiran maupun angka kematian di suatu wilayah. Faktor itu sering disebut dengan :
Pronatalitas = faktor yang mempertinggi angka kelahiran
Promortalitas = faktor yang mempertinggi angka kematian
Antinatalitas = faktor yang menghambat angka kelahiran
Antimortalitas = faktor yang menghambat angka kematian
Beberapa waktu lalu pada jam istirahat ketika sedang duduk-duduk bersantai di luar kelas ada beberapa siswa yang mendatangi saya. Awalnya hanyalah pembicaraan biasa, lebih tepatnya ngobrol dan bercanda. Sampai akhirnya salah satu dari siswa tersebut ada yang bercerita bahwa pada waktu dia masih menjadi siswa di MTs dulu ada salah satu gurunya pada saat mengajar di kelas sering mengajak siswa-siswanya belajar dengan menggunakan media kartu. Saya tertarik mendengar ceritanya sehingga saya memintanya untuk menceritakan detil bagaimana penggunaan media kartu tersebut dalam kegiatan pembelajaran yang pernah diterapkan gurunya di MTs dulu. Dengan penuh semangat dia bercerita pada saat pembelajaran itu setiap siswa diberikan 1 kartu. Kartu yang diterima dapat berupa gambar atau teks, atau berupa kartu soal dan kartu jawaban. Setiap siswa yang mendapatkan kartu kemudian oleh gurunya diminta untuk mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang diperolehnya. Siswa yang memperoleh kartu soal (teks/tulisan) agar mencari pasangannya yang membawa kartu jawaban (gambar). Pada saat mencari pasangan antara soal dan jawaban itu dia bercerita bagaimana keseruan yang dialami di kelas. Dari ceritanya yang penuh semangat itu saya menduga sepertinya model pembelajaran yang digunakan gurunya di MTs dulu adalah Make A Match.
Model Make A Match (membuat pasangan) merupakan salah satu jenis dari metode dalam pembelajaran kooperatif. Model ini dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu cara keunggulan model ini adalah peserta didik mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik, dalam suasana yang menyenangkan. Model ini memberikan kesempatan bagi siswa agar dapat bekerjasama dengan oranglain. Make A Match dapat dapat diterapkan di semua mata pelajaran dan dan semua tingkatan usia peserta didik.
Model Make A Match ini sebenarnya sudah pernah saya terapkan beberapa tahun lalu saat masih mengajar di kelas X. Beberapa file kartu soal dan kartu jawaban yang saya buat bisa diunduh di link berikut ini :
Modifikasi Kuis Siapa Aku Dengan Membuat Pertanyaan Dalam Bentuk Sandi
oleh = Andi Hidayat
= – = – =
Pada waktu mengikuti kegiatan pramuka ada salah satu materi kepramukaan yang pasti akan kita dapatkan, yaitu materi sandi. Memahami sandi dalam kegiatan kepramukaan sudah tentu harus dipahami dan juga dipraktekkan. Kegiatan jurit malam yang biasa diadakan dalam kemah kepramukaan yang begitu menyenangkan dan menegangkan dapat menjadi tolok ukur keberhasilan kita dalam memahami sandi-sandi dalam kegiatan pramuka. Praktik mencari jejak dengan membaca sandi-sandi yang ditinggalkan oleh kakak senior menjadi bahan penerapan dalam menguasai sandi tersebut.
Membuat Maket Pola Keruangan Kota Menurut Teori Inti Ganda (Haris & Ullman)
Oleh = Andi Hidayat
===
Setelah beberapa waktu lalu saya memposting karya siswa tentang Teori Konsentris dan Teori Sektoral, berikut ini saya posting kembali karya siswa saya yang lain. Masih berkaitan dengan tema Teori Keruangan Kota, karya siswa kali ini adalah maket tentang pola keruangan kota berdasarkan teori Inti Ganda menurut Haris & Ullman.
Ada 4 kelompok yang membuat maket teori inti ganda ini. Bahan-bahan untuk membuat maket sekali lagi tetap saya anjurkan menggunakan barang-barang bekas sebagai bentuk penerapan prinsip reuse dalam pengelolaan lingkungan hidup.
Model teori Inti Ganda menurut Haris & Ullman ini tergolong rumit dalam membuat maketnya, beberapa siswa sempat kebingungan dan bertanya mengenai tata ruangnya yang berbeda dibanding dengan 2 teori sebelumnya.