Menghitung Jumlah Penduduk di Suatu Negara dengan Sensus Penduduk

Jumlah penduduk di suatu negara termasuk Indonesia akan selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan jumlah penduduk bisa berupa bertambahnya jumlah penduduk dengan cepat maupun lambat, atau sebaliknya jumlah penduduk akan berkurang karena sesuatu hal. Perubahan jumlah ini harus selalu dipantau oleh pemerintah sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan-kebijakan progam pembangunan yang akan dilaksanakan di tahun-tahun mendatang. Lantas bagaimana cara memantau perubahan jumlah penduduk negara yang bergitu dinamis? Untuk mengetahui perubahan jumlah penduduk maka diperlukan penghitungan jumlah penduduk.

Ada 3 cara yang digunakan dalam menghitung untuk menghitung jumlah penduduk dalam suatu negara yaitu sensus, survei dan registrasi. Ketiga cara perhitungan jumlah penduduk tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri tetapi saling mendukung, sehingga hasil pendataan jumlah penduduk menjadi akurat dan berkesinambungan.

Sensus Penduduk

Sensus adalah penghitungan jumlah penduduk secara menyeluruh yang dilakukan oleh pemerintah dalam jangka waktu tertentu dan dilakukan secara serentak. Jangka waktu sensus di suatu negara biasanya dilaksanakan setiap 5 – 10 tahun sekali.  Indonesia melaksanakan sensus penduduk setiap 10 tahun sekali sejak kali pertama melaksanakan sensus dari tahun 1971 – 2010. Pernah juga melaksanakan dalam kurun waktu 5 tahun di tahun 1995.

Lanjutkan membaca “Menghitung Jumlah Penduduk di Suatu Negara dengan Sensus Penduduk”

Ledakan Penduduk dan Dampaknya

Secara kuantitas penduduk di bumi tempat tinggal kita ini pasti akan terus bertambah, hingga pada masanya nanti bumi akan penuh sesak oleh manusia yang semakin banyak dan heterogen. Hal ini adalah fenomena kependudukan yang bersifat normal. Manusia dengan kodratnya untuk hidup berpasangan tentu akan memunculkan generasi-generasi berikutnya dalam jumlah yang lebih banyak dari pada generasi sebelumnya.
Bertambahnya penduduk di dunia ini adalah hal yang wajar, sehingga manusia melalui berbagai sendi kehidupan di bidang pemerintahan, ekonomi, sosial dan yang lain tentu akan mempersiapkan segala sesuatunya agar generasi mendatang bisa survive untuk keberlangsungan hidupnya. Pertambahan penduduk yang stabil dan lambat tentu menjadi dambaan semua negara, tetapi bagaimana jika pertambahan penduduk yang terjadi adalah sebuah fenomena geografi yang sering dinamakan dengan Ledakan Penduduk?

Ledakan penduduk adalah suatu keadaan yang memperlihatkan pertumbuhan jumlah penduduk yang melonjak dengan cepat dan tidak terkendali dalam waktu yang relatif pendek. Ledakan penduduk di suatu negara terjadi karena semakin tingginya angka kelahiran yang disertai dengan semakin rendahnya angka kematian karena beberapa indikator yang mempengaruhi, misalnya mambaiknya kondisi kesehatan masyarakat dan kondisi gizi masyarakat yang juga semakin membaik.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia juga mengalami masalah yang berkaitan dengan pertumbuhan penduduknya. Pertumbuhan penduduk di Indonesia dalam kurun waktu setiap 10 tahun terhitung sejak tahun 1971 – 2010 mengalami pertambahan yang besar, sebagaimana dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Lanjutkan membaca “Ledakan Penduduk dan Dampaknya”

Pengertian Antroposfer

Bumi sebagai kajian utama dalam ilmu geografi memiliki objek material yang dikaji meliputi lithosfer, hidrosfer, atmosfer, biosfer dan antroposfer. Dari objek material tersebut ada dua garis besar yang dapat diambil yaitu objek material yang berkaitan dengan kondisi fisik alam (atmosfer, lithosfer dan hidrosfer) dan objek material yang berkaitan dengan aktifitas makhluk hidup yang ada di planet ini (biosfer/flora-fauna dan antroposfer/manusia). Dalam kaitannya dengan aktifitas makhluk hidup, dadang muncul pertanyaan yang berkaitan dengan biosfer dan antroposfer. Flora-fauna dan manusia sama-sama makhluk hidup, tetapi mengapa dalam objek material ilmu geografi terjadi pemisahan kajian antara flora-fauna (biosfer) dengan manusia (antroposfer)? Mengapa manusia tidak masuk dalam objek biosfer? Bukankan manusia itu makhluk hidup? Ada siswa yang mengajukan pertanyaan seperti itu dan saat pertanyaan itu saya kembalikan kepada siswa-siswa lain di kelas maka kemudian mulailah terjadi diskusi yang menarik. Mereka mengajukan argumen-argumennya, menjawab dengan menggunakan berbagai sudut pandang dari disiplin ilmu yang berbeda-beda. Kemudian pada saat mereka saya minta menganalisis dari sisi pengaruhnya terhadap alam, hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan alam barulah mereka mulai menemukan garis besar mengapa objek material biosfer dan antroposfer tidak dijadikan satu.

Jika kita membahas bagaimana pengaruh aktifitas mahkluk hidup terhadap alam, maka keberlangsungan kehidupan flora dan fauna sangat dipengaruhi oleh alam dan tidak mempengaruhi alam secara langsung. Sedangkan keberlangsungan hidup manusia tidak hanya dipengaruhi oleh alam tetapi juga bagaimana manusia itu sendiri bisa mempengaruhi alam sekitarnya.

Sebagai contoh dari pengaruh manusia terhadap alam misalnya sebuah lereng gunung yang pada awalnya tidak begitu produktif bisa diubah oleh manusia menjadi produktif dengan memanfaatkan kemampuan menusia untuk “merubah” wajah alam

Lanjutkan membaca “Pengertian Antroposfer”

Karya Siswa – Membuat Peta Timbul Dari Kertas Koran Bekas

Prinsip Reduce, Reuse dan Recycle sebisa mungkin tidak hanya saya pahamkan kepada siswa-siswi di tempat saya mengajar. Tetapi bagaimana prinsip yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan yang berkelanjutn tersebut bisa diterapkan secara langsung oleh mereka. Prinsip reduce bisa diterapkan misalnya mengurangi penggunaan air di toilet-toilet madrasah yang berlebihan atau saat menggunakan kran-kran di sekitar bangunan madrasah. Prinsip Reuse sendiri kami terapkan pada penggunaan ulang aneka kertas hvs folio atau kwarto. Sisi kertas yang masih putih belum digunakan untuk mencetak kita gunakan lagi untuk kegiatan belajar di kelas baik untuk permainan (kuis) atau untuk menjawab soal.

Prinsip Recycle atau Daur Ulang mungkin agak sulit diterapkan secara langsung oleh siswa, dalam arti mereka membuat suatu produk dengan mendaur ulang dari bahan-bahan tak terpakai melewati aneka proses produksi. Tetapi agar siswa dapat menerapkan secara sederhana maka ada satu kelompok siswa yang saya beri tugas untuk membuat peta timbul menggunakan kertas koran bekas.
Kelompok yang terdiri dari 4 siswi kelas XII IPS 1 ini membuat peta timbul wilayah Indonesia dan selama proses pembuatan peta timbul itu saya minta mereka untuk merekamnya.

Lanjutkan membaca “Karya Siswa – Membuat Peta Timbul Dari Kertas Koran Bekas”

Karya Siswa – Membuat Peta Timbul Dengan Aneka Biji-bijian Tanaman

Memasuki semester genap merupakan masa-masa krusial bagi siswa-siswa kelas XII. Semester genap kelas XII atau semester 6 adalah bulan-bulan dengan kegiatan pembelajaran yang bisa dikatakan padat dan waktu tatap muka di kelas yang sangat sedikit.  Awal bulan Januari siswa-siswi kelas XII mulai masuk kembali ke madrasah di semester genap dan pada minggu-minggu ke-2 atau ke-3 bulan Maret sudah akan menghadapi rangkaian ujian, dari Gladi Bersih UNBK, UAMBNBK, USBNBK, USBNKP hingga ke puncaknya yaitu UNBK pada awal April nanti. Dengan tugas tambahan saya sebagai teknisi Ujian Berbasis Komputer (UN, UAMBN, USBN) hingga ditunjuk sebagai Helpdesk UAMBNBK oleh Kanwil Kementerian Agama Propinsi DIY tentu membuat jumlah pertemuan saya di kelas dengan siswa-siswi semakin berkurang.

Lanjutkan membaca “Karya Siswa – Membuat Peta Timbul Dengan Aneka Biji-bijian Tanaman”

Download Contoh Variasi Soal Menjodohkan Geografi 03

Kuis Berkelompok Mengerjakan Soal Menjodohkan Dengan Lem dan Gunting

oleh = Andi Hidayat

= – = – =

Pada dua postingan terdahulu saya memposting contoh-contoh file soal menjodohkan dengan jawaban tunggal (single answer) pada Variasi Soal Menjodohkan 01 dan soal menjodohkan dengan jawaban jamak (multiple answer) pada Variasi Soal Menjodohkan 02. Pada postingan kali ini saya akan melampirkan file soal menjodohkan dengan format yang berbeda dari postingan pertama dan kedua. Seperti apa perbedaan formatnya? Bisa anda lihat pada gambar berikut.

Berbeda dengan model soal menjodohkan yang memiliki kolom yang berisi pertanyaan/soal dan kolom yang berisi jawaban, maka soal menjodohkan pada gambar di atas jawaban saya taruh di bawah tabel soal/pertanyaan.

Lantas bagaimana siswa dalam mengerjakan soal tersebut? Bagaimana siswa menghubungkan soal/pertanyaan ke jawaban dengan membuat garis? Bagaimana pula siswa dapat menuliskan huruf option jawaban padahal pada daftar jawaban tidak ada option hurufnya.

Lanjutkan membaca “Download Contoh Variasi Soal Menjodohkan Geografi 03”