Tenaga Endogen – Tektonisme 2 – Pelengkungan (Warping)

Gejala Pelengkungan (Warping) Gerak Orogenesa

Oleh : Andi Hidayat

= – = – =

Tektonisme merupakan salah satu aktifitas dari tenaga endogen yang membentuk permukaan/kulit bumi. Tektonisme adalah gejala/fenomena alam yang berkaitan dengan pergerakan lempeng tektonik bumi yang menyebabkan terjadinya perubahan letak kulit bumi (dislokasi) dan perubahan bentuk kulit bumi (deformasi). Aktifitas pergerakan lempeng tektonik disebabkan oleh arus konveksi yang berada di dalam perut bumi. Aktifitas tektonik bumi terdiri dari 2 jenis yaitu gerak epirogenesa dan gerak orogonesa. Pada posting yang lalu telah dibahas tentang gerak epirogenesa, kali ini akan dibahas gerak orogenesa.

Gerak Orogenesa adalah gerak tektonis yang membentuk permukaan bumi dalam waktu yang relatif singkat dan meliputi wilayah yang sempit. Bentukan permukaan bumi hasil gerak orogenesa biasanya berupa struktur pegunungan khas antara lain sturktur pelengkungan (warping), lipatan (folding), patahan (fault), dan rekahan (joint).

Pada posting kali ini kita bahas tentang struktur pelengkungan (warping) :
Pelengkungan (warping) adalah gerak vertikal yang tidak merata pada suatu daerah, khususnya yang berbatuan sedimen akan menghasilkan perubahan struktur lapisan yang mulanya horisontal menjadi melengkung.

Lanjutkan membaca “Tenaga Endogen – Tektonisme 2 – Pelengkungan (Warping)”

Tenaga Endogen – Tektonisme 1 – Gerak Epirogenesa

Gerak Epirogenesa Hasil Aktifitas Tektonisme

Oleh : Andi Hidayat

= – = – =

Tektonisme merupakan salah satu aktifitas dari tenaga endogen yang membentuk permukaan/kulit bumi. Tektonisme adalah gejala/fenomena alam yang berkaitan dengan pergerakan lempeng tektonik bumi yang menyebabkan terjadinya perubahan letak kulit bumi (dislokasi) dan perubahan bentuk kulit bumi (deformasi). Aktifitas pergerakan lempeng tektonik disebabkan oleh arus konveksi yang berada di dalam perut bumi. Aktifitas tektonik bumi terdiri dari 2 jenis yaitu gerak epirogenesa dan gerak orogonesa. Pada posting kali ini saya tulis lebih dahulu mengenai gerak epirogenesa.

Gerak epirogenesa adalah proses pergerakan lapisan kulit bumi dengan kecepatan yang lambat, pada wilayah yang luas dan berdampak pada perubahan benua.

Gerak epirogenesa terbagi dalam 2 macam gerak, antara lain :

Lanjutkan membaca “Tenaga Endogen – Tektonisme 1 – Gerak Epirogenesa”

Tenaga Endogen – Seisme 7 – Menentukan Waktu Gelombang Primer dan Sekunder Gempa

Menentukan Waktu Gelombang Primer dan Sekunder Tercatat Di Stasiun Pengamatan Gempa

Oleh : Andi Hidayat

 = – = – =

Menentukan jarak episentrum dari stasiun pengamatan dapat dihitung menggunakan rumus Laska. Pada postingan sebelumnya telah saya tulis cara contoh cara perhitungan penghitungan jarak episentrum menggunakan rumus tersebut. Pada prinsipnya penentuan jarak episentrum dari stasiun pengamatan gempa ini menggunakan selisih waktu antara gelombang primer dengan gelombang sekunder yang tercatat/terekam oleh alat pencatat gempa.

Stasiun pencatat gempa dengan alat-alat yang tersedia telah memiliki data kapan gelombang primer dan sekunder terekam, sehingga jarak episentrum dari stasiun tersebut cepat diketahui.

Pada materi pembelajaran kelas X tentang gempa juga mengenalkan rumus ini kepada siswa dan soal yang berkaitan dengan rumus Laska juga sering muncul dalam penilaian-peniliaian. Soal-soal tersebut sesuai dengan rumus Laska adalah soal yang menanyakan berapa jarak episentrum dari stasiun pengamat gempa. Tetapi pada beberapa soal pernah saya temui ada yang menanyak kapan gelombang primer atau kapan gelombang sekunder terekam oleh alat.Sebenarnya stasiun pengamat gempa pasti telah memiliki data kapan gelombang primer dan sekunder tercatat sehingga tidak perlu dihitung lagi.

Lanjutkan membaca “Tenaga Endogen – Seisme 7 – Menentukan Waktu Gelombang Primer dan Sekunder Gempa”

Tenaga Endogen – Seisme 6 – Menghitung lokasi episentrum

Menentukan lokasi episentrum dengan menghitung jarak episentrum dari stasiun pencatat gempa.

Oleh : Andi Hidayat

= – = – =

Beberapa saat setelah terjadi gempa lembaga yang berwenang mengurusi masalah kegempaan dalam hal ini BMKG segere merilis informasi mengenai gempa yang telah terjadi tersebut. Informasi tersebut biasanya berisi tentang besaran skala gempa, lokasi epicentrum gempa dan seberapa besar potensi tsunani akan terjadi.

Era teknologi yang sudah demikian maju mampu membuat informasi dengan cepatnya menyebar ke berbagai media. Dengan diketahuianya lokasi epicentrum gempa bumi maka akan segera dapat dimanfaatkan oleh penduduk untuk mempersiapkan lebih dini upaya mitigasi bencana gempa bumi. Lantas bagaimana cara untuk mengetahui lokasi episentrum gempa?

Sebagaimana gambar di atas, untuk mengetahui lokasi episentrum gempa secara akurat diperlukan hasil pencatatan gempa dari minimal 3 stasiun pencatat gempa. Gelombang gempa akan tercatat dalam seismograf dalam bentuk grafik. Jarak epicentrum dari stasiun pencatat gempa diambil dari perbedaan selang waktu antara gelombang primer dengan gelombang sekunder yang tercatat. Setelah jarak episentrum diketahui kemudian dari stasiun pencatat gempa dibuat buffering dalam bentuk lingkaran sejauh jarak hasil perhitungan. Stasiun lain yang juga mencatat kejadian gempa tersebut melakukan hal yang sama. Hasil buffering dari ketiga stasiun tersebut akan didapati garis perpotongan yang berarti menunjukkan lokasi episentrum.

Lanjutkan membaca “Tenaga Endogen – Seisme 6 – Menghitung lokasi episentrum”

Tenaga Endogen – Seisme 5 – Gempa dalam Skala Richter

Kekuatan Gempa Dalam Skala Richter

Oleh : Andi Hidayat

= – = – =

Penemu penghitungan dalam mengukur kekuatan gempa bumi adalah Richter atau Charles Francis yang lahir di Hamilton 26 April 1900. Beliau menyelesaikan studi S3 nya di Institut Teknologi California Tahun 1928 kemudian Ia diangkat menjadi professor pada bidang seismologi pada tahun 1952. Memulai pekerjaan pada Institut Carnegie Tahun 1927-1936. Ahli seismologi yang satu ini mengabadikan namanya dalam menentukan kekuatan gempa bumi yang hingga sekarang ini masih digunakan (Skala Richter) disingkat SR.

Skala Richter ini hanya hanya cocok digunakan untuk menganalisis gempa-gempa dekat dengan magnitudo di bawah 6,0. Jika terjadi gempa dengan besaran di atas 6.0 maka teknik Richter ini tidak representatif lagi. BMKG sebagai lembaga pemerintah yang berwenang mengurusi kegempaan di Indonesia sudah tidak menggunakan metode Skala Richter ini tetapi menggunakan MMI (Modified Mercalli Intensity) disamping mengembangkan sendiri Skala Intensitas Gempa Bumi sendiri.

Lanjutkan membaca “Tenaga Endogen – Seisme 5 – Gempa dalam Skala Richter”

Tenaga Endogen – Seisme 4 – Gempa dalam Skala Mercalli

Kekuatan Gempa Dalam Skala Mercalli

Oleh : Andi Hidayat

= – = – =

Indonesia merupakan salah satu negara yang sering mengalami gempa bumi. Hampir setiap saat dalam rentang waktu pendek selalu terjadi gempa di banyak tempat di wilayah Indonesia, terutama pada daerah-daerah yang rawan gempa. Disebut daerah rawan gempa karena wilayah tersebut terdapat pada wilayah pertemuan lempeng tektonik.
Namun meskipun sering terjadi gempa tidak semuanya bisa kita rasakan, tidak semua gempa yang terjadi akan menyebabkan kerusakan atau bencana yang membuat korban jiwa dan kerugian. Hal tersebut karena gempa yang terjadi tidak selalu memiliki kekuatan yang sama, pada satu gempa hanya memiliki kekuatan kecil dan pada gempa lain memiliki kekuatan yang besar.

Seberapa besar kekuatan gempa yang terjadi disebut dengan skala gempa. Salah satu skala gempa yang dijadikan acuan oleh ahli-ahli geofisika adalah Skala MMI (Modified Mercalli Intensity) atau lebih sering disebut skala Mercalli saja.

Lanjutkan membaca “Tenaga Endogen – Seisme 4 – Gempa dalam Skala Mercalli”