Perbedaan Kualitatif Pola Keruangan Desa dengan Kota

Desa dan kota merupakan wilayah yang memiliki pol keruangan berbeda. Secara umum desa memiliki wilayah yang lebih luas daripada kota. Jika luas dibandingkan dengan jumlah penduduknya maka desa memiliki kepadatan penduduk yang lebih rendah daripada kepadatan penduduk kota. Rendahnya kepadatan penduduk desa membuat lahan-lahan hunian untuk tempat tinggal terlihat lebih sedikit daripada luas keseluruhan lahan yang ada.

Sedangkan tingginya kepadatan penduduk di kota membuat lahan-lahan di kota tertutup oleh bangunan-bangunan, baik bangunan publik, tempat usaha maupun bangunan tempat tinggal penduduk kota. Kepadatan penduduk kota membuat proses penataan ruang kota untuk masa-masa mendatang, karena hampir semua lahan sudah tertutup.

Lanjutkan membaca “Perbedaan Kualitatif Pola Keruangan Desa dengan Kota”

Struktur Ruang Kota Menurut Haris & Ullman (Teori Inti Ganda)

Pertumbuhan dan perkembangan kota sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor alamiah dan faktor sosial wilayah, serta kebijakan pemerintah. Faktor alamiah yang mempengaruhi perkembangan kota antara lain lokasi, fisiografi, iklim, dan kekayaan alam yang terkandung di daerah tersebut. Termasuk dalam faktor sosial di antaranya kondisi penduduk dan fasilitas sosial yang ada. Adapun kebijakan pemerintah menyangkut penentuan lokasi kota dan pola tata guna lahan di wilayah perkotaan tersebut.

Kenampakan penggunaan ruang perkotaan adalah keanekaragaman fungsi tanah sebagai cerminan dari keanekaragaman kebutuhan warga kota terhadap berbagai jenis fasilitas kehidupan. Penggunaan tanah akan menjadi salah satu karakter kota, sebagai hasil perpaduan antara kondisi fisik seperti topografi, morfologi, hidrografi, dan kondisi sosial seperti sejarah, ekonomi warga kota, budaya, pemerintah dan keterbukaan kota terhadap daerah lainnya. Segmentasi ruang dalam kota sangat tergantung pada: lokasi kota, karakteristik fisik, kebijakan penggunaan lahan, dan kondisi sosial ekonomi penduduk.

Lanjutkan membaca “Struktur Ruang Kota Menurut Haris & Ullman (Teori Inti Ganda)”

Struktur Ruang Kota Menurut Hommer Hoyt (Teori Sektoral)

Pertumbuhan dan perkembangan kota sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor alamiah dan faktor sosial wilayah, serta kebijakan pemerintah. Faktor alamiah yang mempengaruhi perkembangan kota antara lain lokasi, fisiografi, iklim, dan kekayaan alam yang terkandung di daerah tersebut. Termasuk dalam faktor sosial di antaranya kondisi penduduk dan fasilitas sosial yang ada. Adapun kebijakan pemerintah menyangkut penentuan lokasi kota dan pola tata guna lahan di wilayah perkotaan tersebut.

Kenampakan penggunaan ruang perkotaan adalah keanekaragaman fungsi tanah sebagai cerminan dari keanekaragaman kebutuhan warga kota terhadap berbagai jenis fasilitas kehidupan. Penggunaan tanah akan menjadi salah satu karakter kota, sebagai hasil perpaduan antara kondisi fisik seperti topografi, morfologi, hidrografi, dan kondisi sosial seperti sejarah, ekonomi warga kota, budaya, pemerintah dan keterbukaan kota terhadap daerah lainnya. Segmentasi ruang dalam kota sangat tergantung pada: lokasi kota, karakteristik fisik, kebijakan penggunaan lahan, dan kondisi sosial ekonomi penduduk.

Lanjutkan membaca “Struktur Ruang Kota Menurut Hommer Hoyt (Teori Sektoral)”

Struktur Ruang Kota Menurut Ernest W Burgess (Teori Konsentris)

Pertumbuhan dan perkembangan kota sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor alamiah dan faktor sosial wilayah, serta kebijakan pemerintah. Faktor alamiah yang mempengaruhi perkembangan kota antara lain lokasi, fisiografi, iklim, dan kekayaan alam yang terkandung di daerah tersebut. Termasuk dalam faktor sosial di antaranya kondisi penduduk dan fasilitas sosial yang ada. Adapun kebijakan pemerintah menyangkut penentuan lokasi kota dan pola tata guna lahan di wilayah perkotaan tersebut.

Kenampakan penggunaan ruang perkotaan adalah keanekaragaman fungsi tanah sebagai cerminan dari keanekaragaman kebutuhan warga kota terhadap berbagai jenis fasilitas kehidupan. Penggunaan tanah akan menjadi salah satu karakter kota, sebagai hasil perpaduan antara kondisi fisik seperti topografi, morfologi, hidrografi, dan kondisi sosial seperti sejarah, ekonomi warga kota, budaya, pemerintah dan keterbukaan kota terhadap daerah lainnya. Segmentasi ruang dalam kota sangat tergantung pada: lokasi kota, karakteristik fisik, kebijakan penggunaan lahan, dan kondisi sosial ekonomi penduduk.

Lanjutkan membaca “Struktur Ruang Kota Menurut Ernest W Burgess (Teori Konsentris)”

Struktur Ruang Kota Menurut R. Bintaro

Kota pada umumnya merupakan wilayah yang dibentuk secara terencana. Perencanaan pembangunan di wilayah kota membagi beberapa wilayahnya menjadi zona-zona dengan fungsi tertentu. Struktur ruang kota keadaannya lebih kompleks dan teratur dibandingkan desa. Struktur ruang kota mengatur pemanfaatan ruang atau lahan untuk keperluan tertentu sehingga tidak terjadi pemanfaatan yang tumpang tindih.

Pola penggunaan lahan merupakan salah satu bentuk interaksi antara manusia dengan lingkungan sebagai tempat hidupnya. Melalui perencanaan sistem penggunaan lahan yang tepat sesuai dengan kondisi lingkungannya, manusia dapat memanfaatkan ruang muka bumi secara maksimal.

Lanjutkan membaca “Struktur Ruang Kota Menurut R. Bintaro”

Klasifikasi Kota

Klasifikasi Kota Secara Umum Yang Sering Digunakan

Pola Keruangan Kota

= – = – = 

Pada saat kalian berkunjung dari kota satu ke kota lain, jika yang kalian lihat adalah hiruk-pikuknya suasana maka kalian akan berpendapat secara umum kota itu sama antara satu dengan lainnya. Tetapi jika kalian mempelajari lebih jauh pada hal-hal yang lain misalnya seperti seberapa besar jumlah penduduk penduduknya, bagaimana bangunan-bangunan yang ada, bagaimana penataan ruangnya atau struktur tata kotanya, dan beberapa hal lain maka akan kita dapati bahwa antara kota satu dengan yang lain akan memiliki perbedaan.

Setiap kota memiliki ciri yang membuatnya berbeda satu sama lain. Ada kota yang sedikit memiliki gedung-gedung besar bertingkat meskipun penduduknya besar. Ada kota yang penduduknya sedang tetapi memiliki bangunan-bangunan pencakar langit. Ada kota yang mempertahankan bangunan-bangunan kuno peninggalan sejarah masa lalu. Ada kota yang penduduknya sangat padat, bangunan-bangunan pencakar langit banyak dan aktivitas kehidupan yang begitu dinamis di dalamnya. Banyaknya hal yang membedakan ini akan lebih mudah jika kita pelajari dalam klasifikasi kota berikut ini.

Sistem klasifikasi kota dapat didasarkan atas beberapa faktor, seperti berdasarkan jumlah penduduk, fungsi, dan luas kota. Sistem penggolongan kota yang dilakukan oleh sebuah negara tidak selalu sama dengan negara lainnya. Hal ini sangat berhubungan dengan tingkat kemajuan pembangunan yang telah dicapai dan jumlah penduduk negara yang bersangkutan. Selain itu, dikenal juga istilahistilah yang berhubungan dengan penggolongan kota, seperti city (kota), town (kota kecil), dan urban (wilayah perkotaan). Oleh karena itu, untuk dapat mengklasifikasikan kota diperlukan standar yang cukup valid dan representatif.

Secara umum, sistem klasifikasi kota yang sering digunakan adalah sebagai berikut :

Lanjutkan membaca “Klasifikasi Kota”